Di tengah meningkatnya pembahasan tentang krisis pangan, kenaikan harga bahan pokok, dan ketergantungan masyarakat terhadap pasar, sesungguhnya ada satu pelajaran yang sering terlupakan, ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan terkecil yang kita miliki. Tidak harus menunggu lahan luas, modal besar, ataupun program besar pemerintah. Kadang, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten justru mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan sehari-hari.
Saya mencoba membuktikan hal tersebut melalui budidaya ikan nila dan lele menggunakan kolam terpal di pekarangan belakang kantor. Awalnya hanya sekedar hobi untuk mengisi waktu luang dan memanfaatkan ruang kosong yang tidak produktif. Namun seiring waktu, kegiatan itu justru menghadirkan banyak pelajaran berharga tentang kemandirian pangan, kebersamaan, dan rasa syukur.
Hobi budidaya itu bahkan saya beri nama “Lenilakers”, singkatan yang lahir dari kecintaan terhadap budidaya lele dan nila. Nama itu mungkin terdengar santai dan sederhana, tetapi di baliknya tersimpan semangat bahwa ketahanan pangan tidak selalu harus tampil dalam konsep yang rumit. Kadang, gerakan kecil yang dilakukan dengan ketulusan justru lebih mudah menginspirasi orang lain untuk ikut memulai.
Kolam terpal yang berada di belakang kantor perlahan menjadi ruang belajar bersama. Tidak hanya tentang cara memberi pakan ikan atau menjaga kualitas air, tetapi juga tentang pentingnya memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita. Saat banyak orang terlalu bergantung pada segala sesuatu yang instan, kegiatan sederhana seperti budidaya ikan justru mengajarkan nilai kesabaran dan proses.
Ada kebahagiaan tersendiri ketika hasil budidaya tersebut dapat dinikmati bersama anggota di kantor saat makan siang. Kebersamaan itu terasa berbeda karena makanan yang tersaji bukan sekedar dibeli, melainkan dihasilkan dari usaha bersama, dirawat bersama, dan dinikmati bersama. Dari sana saya menyadari bahwa pangan bukan hanya soal kebutuhan perut, tetapi juga tentang membangun rasa memiliki dan solidaritas.
Pengalaman sederhana ini juga membuka pemahaman bahwa ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab petani atau pemerintah semata. Setiap individu sebenarnya memiliki peluang untuk berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang memulai dengan menanam cabai di halaman rumah, ada yang memelihara ikan di ember, dan ada pula yang memanfaatkan kolam terpal seperti yang saya lakukan.
Sering kali masyarakat merasa bahwa gerakan kemandirian pangan membutuhkan biaya besar dan teknologi tinggi. Padahal kenyataannya, yang paling dibutuhkan justru kemauan untuk memulai. Kolam terpal membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha menciptakan sumber pangan mandiri. Justru dari keterbatasan itulah kreativitas sering lahir.
Lebih dari sekedar menghasilkan ikan konsumsi, kegiatan budidaya ini juga menjadi sarana edukasi bagi lingkungan sekitar. Banyak orang yang awalnya hanya melihat-lihat akhirnya mulai tertarik bertanya tentang cara budidaya, jenis pakan, hingga proses perawatan ikan. Dari percakapan-percakapan sederhana itu, semangat kemandirian pangan perlahan menyebar tanpa harus dipaksakan.
Kegiatan memelihara ikan lele dan nila ini bukan saja menambah pengetahuan kita dengan belajar dan memahami setiap perilaku dari ikan tersebut, tetapi kegiatan ini memberikan dampak yang luar biasa yang tidak disadari yaitu sebagai pelepas lelah dan penghilang stres terhadap tekanan pekerjaan yang setiap hari dihadapi. Saya rasa, hal ini sebagai nilai positif yang luar biasa dalam menghadapi dinamika persoalan kehidupan yang semakin berat, maka berternak dan berkebun akan meringankan kita dalam menjalani kehidupan ini.
Di masa depan, tantangan pangan kemungkinan akan semakin kompleks. Pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, dan ketidakstabilan ekonomi dapat memengaruhi ketersediaan bahan pangan. Karena itu, membangun kesadaran untuk mulai mandiri sejak sekarang menjadi langkah yang sangat penting. Ketahanan pangan sejatinya bukan hanya tentang stok makanan, tetapi juga tentang kesiapan mental dan budaya untuk tidak sepenuhnya bergantung kepada pihak lain.
Kolam terpal di belakang kantor mungkin terlihat sederhana dan jauh dari kata sempurna. Namun dari tempat sederhana itulah saya belajar bahwa kemandirian pangan bukan dimulai dari wacana besar, melainkan dari tindakan kecil yang dilakukan dengan konsisten. Dan mungkin, perubahan besar bangsa ini pun suatu hari nanti bisa dimulai dari pekarangan kecil, dari kolam sederhana, dan dari orang-orang yang mau bergerak terlebih dahulu.
Penulis: Kolonel Laut (KH) Bayu Kurnianto, S.Kom., M.T.I., CHRMP. (Pembina Bhumi Literasi Anak Bangsa)

