Pendidikan merupakan pilar dasar utama dalam kehidupan. Pendidikan memiliki andil penuh dalam perkembangan manusia mulai dari berpikir, memahami perasaan dan berperilaku. Tanpa adanya pendidikan maka manusia tidak akan berkembang dari 3 aspek utama tersebut. Seyogyanya dengan pendidikan tidak hanya dapat mencetak manusia sebagai pekerja saja namun dapat menghasilnya manusia yang terdidik.
Pendidikan berperan dalam pembentukan aspek kognitif manusia
Pendidikan memiliki peran dalam pembentukan pola pikir manusia. Manusia mengikuti pembelajaran yang ada sehingga memacu otak untuk belajar dan memahami tentang pelajaran yang ada, kemudian semuanya diingat dan dapat dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Dengan meningkatnya kemampuan otak/ aspek kognitif dalam diri manusia otomatis dapat meningkatkan kemampuan seseorang dan diharapkan dapat dijadikan bekal di masa depan dalam menyelesaikan suatu permasalahan (problem solving). Maka semakin banyak hal yang dipelajari maka semakin banyak hal yang dipahami dan dikuasai.
Dengan demikian, setelah mengasah kemampuan berpikir atau aspek kognitif selanjutnya akan berpengaruh terhadap perasaan atau aspek afeksi dalam diri seseorang dimana ia tidak hanya dapat berpikir dan menilai sesuatu hal namun dapat merasakannya juga (feeling).
Pendidikan berperan dalam pembentukan aspek afektif manusia
Dalam proses menjalani proses belajar dan mempengaruhi aspek kognitif manusia, selanjutnya belajar juga dapat mempengaruhi aspek perasaan atau afeksi dalam diri seseorang. Dengan belajar manusia memiliki gudang informasi yang disimpan didalam otak mulai dari ilmu matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, bahasa dan sebagainya sehingga mengetahui mana yang benar, mana yang salah, dan mana yang ambigu atau perlu dicari tahu lebih dalam lagi terkait jawaban pastinya.
Hal ini juga akan dapat dipahami oleh perasaan manusia dimana ketika dia benar maka perasaan yang timbul menjadi nafas terasa lebih lega, tingkat percaya diri meningkat dan seterusnya. Sedangkan apabila dia salah maka perasaan yang timbul berupa rasa percaya diri menurun, lebih hati-hati lagi sebelum menjawab suatu pertanyaan selanjutnya dan seterusnya. Begitu pula apabila dia belum tahu jawaban dari suatu pertanyaan maka perasaan yang timbul berupa rasa ragu-ragu pada indera pengucap saat mengucapkan kalimat jawaban, nada lebih rendah dari biasanya, suara agak bergetar dan rasa percaya diri yang cenderung rendah.
Pada akhirnya aspek afeksi manusia akan terasah seiring berjalannya waktu saat seseorang belajar atau menjalani proses pendidikan sehingga dengan demikian aspek kognitif dan afeksi kedepannya juga akan memiliki pengaruh terhadap pola perilaku manusia melalui proses belajar yang sudah dilalui olehnya.
Pendidikan berperan dalam pembentukan aspek perilaku (konatif) manusia
Setelah belajar manusia akan berkembang terutama pada aspek kognitif dan afektif sehingga kedua aspek ini akan sama-sama mempengaruhi pola perilaku atau aspek konatif pada diri manusia tersebut. Dari belajar manusia menjadi bisa berpikir, berperasaan dan berperilaku sesuai dengan yang diajarkan sehingga setiap manusia akan memiliki karakteristik sesuai dengan kepribadiannya masing-masing.
Manusia dapat memiliki kepribadian yang plegmatis, melankolis, sanguinis, dan koleris, semuanya dari hasil belajar saat masa pendidikan sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi pola perilaku khususnya cara interaksi dan bereaksi seseorang.
Pendidikan menghasilkan Output
Bermula dari belajar kemudian dapat menghasilkan output berupa Kesejahteraan Psikologis (Psychological Well-being) seseorang yang dapat dicapai melalui proses belajar atau pendidikan berupa kemandirian individu, kemampuan mengelola lingkungan, keinginan untuk berkembang, kemampuan menjalin hubungan yang baik dengan orang lain, memiliki tujuan hidup, hingga penerimaan diri.
Dengan demikian pendidikan tidak hanya untuk sekedar mencetak pekerja saja namun faktanya ternyata lebih daripada itu, justru dengan pendidikan kita dapat mendidik manusia dan menghasilkan manusia dengan Kesejahteraan Psikologis (Psychological Well-being) sehingga insan manusia tersebut dapat memiliki bobot atau nilai dalam kehidupan dan menjadikannya sebagai individu yang berkarakter serta membantu individu dalam beradaptasi dan berinteraksi secara lebih efektif.
Penulis: Prasetyo Budhi Setiawan, S.Psi. (Sekretaris Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa)
Dalam Kegiatan Nulis Bareng Bhumi Literasi Rabu, 06 Mei 2026


