-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Profil

    Pendidikan Untuk Memanusiakan Manusia Atau Sebagai Segmentasi Ekonomi?

    Bhumi Literasi
    Wednesday, May 6, 2026, May 06, 2026 WIB Last Updated 2026-05-07T06:27:03Z

     


    Pendidikan merupakan salah satu motor penting bagi masyarakat, dalam mempengaruhi pola pikir dan pengembangan karakter dalam kehidupan sosial.  Memiliki andil dalam mengatasi kebodohan dan kemiskinan, pendidikan tak hanya sekedar tiket bagi masyarakat jika telah menyelesaikan pendidikan di tingkat tertentu dapat melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Dalam tiap tingkat pendidikan yang dijajaki oleh masyarakat, banyak pengembangan karakter yang didapat. Pendidikan dapat terbagi menjadi dua, yaitu pendidikan secara formal dan non-formal. Pendidikan formal yang selama ini kita tahu yang terdiri dari jenjang SD sampai dengan SMA, sedangkan pendidikan non-formal yang didapat dengan mengembangkan skill atau keterampilan tertentu. 

    Dalam Simposium Nasional Kependudukan 2026 pada tanggal 23 April 2026, ada hal yang menggelitik yang diungkapkan oleh Sekjen Kemendikti Saintek yang mengungkapkan rencana menutup prodi di Perguruan Tinggi yang dianggap tidak relevan dengan  kebutuhan di masa depan. Gagasan yang memantik kritik dan sekilas tampak rasional namun, setelah ditelisik dapat menjadi polemik yang sangat mendasar, dikarenakan hal ini dapat mengikis makna pendidikan dan lembaga pendidikan menjadi tidak independen. 

    Jika hanya diukur dalam relevansi ilmu semata  dengan perkembangan industri yang saat ini, hal ini mungkin menjadi timpang jauh.  Pertanyaan yang menjadi dasar bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap prodi di perguruan tinggi: apakah kampus masih menjadi ruang pencarian ilmu atau berubah menjadi lini produksi tenaga kerja?. Hal ini seharusnya menjadi tanggung jawab strategi pemerintah terhadap kampus, apakah jumlah lulusan yang dicetak di setiap Perguruan Tinggi tiap tahunnya sebanding dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Pemerintah dalam hal ini tidak selalu mengekor pada tren industri. Kampus yang merupakan ruang pemikiran kritis menjadi tergerus dengan kebijakan yang hanya berorientasi pada pasar kerja atau industri. 

    Jika lulusan Perguruan Tinggi hanya diukur dari jumlah lapangan pekerjaan hal tersebut sangat tidak ideal. Pendidikan tidak hanya membekali lulusan dengan keterampilan teknis namun juga membangun pengembangan karakter, membangun cara berpikir dan pemecahan masalah serta tanggung jawab sosial.  Jika hanya menuntut lulusan di dunia kerja, seharusnya pemerintah cukup membangun Balai Latihan Kerja. Di Titik ini seharusnya pemerintah menyadari bahwa lulusan yang hanya berorientasi industri adalah pandangan yang sempit. Karen, akan mengabaikan dimensi etis, kultural dan filosofi pendidikan itu sendiri. Dan yang jelas memiliki ketimpangan yang “menguntungkan” sementara lainnya tersingkir.

    Tingginya angka pengangguran di Indonesia bukan terjadi karena salahnya mahasiswa di dalam prodi tertentu, melainkan lemahnya pemerintah sebagai jembatan penghubung kampus dengan dunia industri. Alih-alih menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai, bukan menghapus prodi yang menurut di bidang industri tidak relevan. Bukan berfokus pada eliminasi, melainkan adanya adaptasi dan transformasi dengan pengembangan kurikulum yang lebih modern dan kontekstual. Sebagai contoh, prodi keguruan dapat diperkaya dengan kompetensi teknologi pendidikan dan kemampuan literasi digital dalam menghadapi perkembangan zaman. 

    Pada akhirnya mengeliminasi prodi buka alasan yang krusial dalam menciptakan lapangan pekerjaan., Namun malah mempersempit pilihan intelektual dan kebebasan akademik. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai penyedia tenaga kerja, melainkan ruang terbentuknya cara berpikir, karakter dan kesadaran sosial masyarakat. Pemerintah boleh memberi arah namun, tidak boleh mendikte secara sempit. Pertanyaan yang seharusnya selalu ada adalah untuk apa pendidikan itu ada?  Jika hanya untuk memenuhi kebutuhan industri maka kita yang mengecilkan makna pendidikan itu sendiri.

    Bangsa ini tidak boleh hanya dikenal sebagai bangsa yang “siap kerja” namun, bangsa yang memanuasiakan manusia, membangun peradaban pendidikan. 


    Penulis: Irma Putri Farahani, S.Psi. (Kabid Sosial dan Pengabdian Masyarakat Bhumi Literasi Anak Bangsa)
    Dalam Kegiatan Nulis Bareng Bhumi Literasi Rabu, 06 Mei 2026

    Komentar

    Tampilkan