Tanggal 6 Juni 2026 menjadi momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia. Tepat 125 tahun yang lalu, lahirlah seorang tokoh besar yang kelak mengubah arah perjalanan bangsa ini, yaitu Ir. Soekarno. Sebagai Proklamator Kemerdekaan sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno bukan hanya meninggalkan jejak sejarah, tetapi juga warisan pemikiran yang terus relevan hingga hari ini.
Bung Karno adalah sosok yang berhasil membangkitkan kesadaran nasional di tengah penjajahan yang panjang. Melalui pidato-pidatonya yang membakar semangat, ia mengajak rakyat Indonesia untuk percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Di saat banyak bangsa masih terbelenggu oleh rasa rendah diri akibat kolonialisme, Bung Karno menanamkan keyakinan bahwa bangsa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Salah satu warisan terbesar Bung Karno adalah semangat persatuan. Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, dan beragam budaya berhasil dipersatukan dalam satu cita-cita kebangsaan. Bung Karno memahami bahwa kemerdekaan hanya dapat dipertahankan apabila seluruh elemen bangsa bersedia menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan golongan maupun kelompok.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks, pesan persatuan tersebut justru semakin penting. Arus informasi yang begitu cepat sering kali memicu polarisasi, perpecahan, dan konflik di ruang publik. Dalam situasi seperti ini, bangsa Indonesia perlu kembali belajar dari Bung Karno tentang pentingnya menjaga persaudaraan kebangsaan meskipun berbeda pandangan dan pilihan.
Bung Karno juga dikenal sebagai pemimpin yang memiliki visi besar. Ia tidak hanya memikirkan bagaimana Indonesia merdeka, tetapi juga bagaimana Indonesia menjadi bangsa yang maju, berdaulat, dan dihormati dunia. Berbagai gagasan tentang pembangunan nasional, kemandirian ekonomi, dan politik luar negeri yang bebas aktif menunjukkan betapa jauh pandangan Bung Karno melampaui zamannya.
Semangat berdikari yang selalu digaungkan Bung Karno masih menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia. Kemandirian dalam bidang pangan, teknologi, energi, dan sumber daya manusia merupakan fondasi untuk menghadapi tantangan global. Bangsa yang terlalu bergantung kepada pihak lain akan sulit mencapai kedaulatan yang sesungguhnya.
Selain sebagai negarawan, Bung Karno juga merupakan seorang pembelajar dan pecinta ilmu pengetahuan. Ia banyak membaca, berdiskusi, dan terus mengembangkan wawasan intelektualnya. Hal ini menjadi pelajaran berharga bahwa kepemimpinan yang kuat harus ditopang oleh literasi, pengetahuan, dan kemampuan berpikir kritis.
Bagi generasi muda, peringatan 125 tahun kelahiran Bung Karno hendaknya tidak hanya menjadi seremoni tahunan. Momentum ini perlu dijadikan refleksi untuk meneladani semangat juang, keberanian bermimpi besar, dan kecintaan terhadap tanah air. Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat.
Dalam dunia yang terus berubah, nilai-nilai perjuangan Bung Karno tetap relevan. Nasionalisme bukan berarti menutup diri dari dunia luar, melainkan memiliki rasa percaya diri sebagai bangsa yang mampu berkontribusi bagi peradaban global. Bung Karno telah menunjukkan bahwa Indonesia dapat menjadi bangsa yang disegani ketika rakyatnya bersatu dan memiliki tujuan yang jelas.
Peringatan 125 Tahun Hari Lahir Ir. Soekarno adalah kesempatan untuk menyalakan kembali api kebangsaan dalam diri setiap warga negara. Dengan menjaga persatuan, memperkuat literasi, membangun kemandirian, dan terus berkarya bagi negeri, kita sesungguhnya sedang melanjutkan cita-cita besar yang pernah diperjuangkan oleh Sang Bapak Bangsa. Semoga semangat Bung Karno terus hidup dan menjadi inspirasi bagi Indonesia menuju masa depan yang lebih maju, berdaulat, dan bermartabat.
Penulis: Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc. (Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa)

