Jakarta – Transformasi digital yang berlangsung sangat cepat telah mengubah lanskap pertahanan dan keamanan global. Menurut Dr. Fitry Taufiq Sahary, S.E., M.M., M.Kom. (AI), Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan Republik Indonesia, kondisi tersebut menuntut hadirnya paradigma baru dalam kepemimpinan militer melalui penguatan konsep Kepemimpinan Intuisi Militer.
Dr. Fitry menjelaskan bahwa pemimpin militer masa kini tidak lagi cukup hanya mengandalkan prosedur baku dan analisis rasional semata. Dinamika ancaman yang berkembang begitu cepat mengharuskan seorang komandan mampu mengambil keputusan strategis secara cepat, tepat, dan adaptif dalam situasi yang sering kali penuh ketidakpastian.
Menurutnya, intuisi dalam kepemimpinan militer bukanlah tindakan spontan tanpa dasar yang jelas. Intuisi merupakan hasil akumulasi pengalaman penugasan, pendidikan, latihan, pengetahuan, serta pemahaman mendalam terhadap berbagai situasi yang dihadapi seorang pemimpin sepanjang perjalanan kariernya.
Ia menilai lingkungan strategis saat ini ditandai oleh kondisi VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity), yaitu situasi yang mudah berubah, penuh ketidakpastian, kompleks, dan ambigu. Dalam kondisi seperti itu, seorang pemimpin tidak selalu memiliki waktu yang cukup untuk melakukan analisis secara mendalam sebelum mengambil keputusan penting.
"Kepemimpinan intuisi militer merupakan perpaduan antara ilmu dan seni," ujar Dr. Fitry. Dari sisi ilmu, intuisi dapat dikembangkan melalui pembelajaran, penelitian, simulasi, dan pengalaman operasional. Sementara dari sisi seni, intuisi berkaitan dengan kemampuan membaca situasi, memahami perilaku manusia, serta mengenali peluang dan ancaman yang belum tentu tampak dalam data kuantitatif.
Ia menegaskan bahwa intuisi tidak boleh diposisikan sebagai lawan dari logika. Justru, keputusan terbaik lahir dari kemampuan seorang pemimpin untuk menyeimbangkan analisis rasional dengan kepekaan intuitif. Kombinasi keduanya diyakini mampu menghasilkan keputusan yang cepat sekaligus akurat.
Di era digital, Dr. Fitry menilai perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), big data, sistem informasi pertahanan, dan teknologi siber harus dimanfaatkan untuk memperkuat kualitas intuisi para pemimpin militer. Teknologi menyediakan data dan informasi secara real time, sedangkan intuisi membantu menerjemahkan informasi tersebut menjadi keputusan operasional yang efektif.
Ia juga mengingatkan bahwa transformasi digital membawa tantangan baru berupa ancaman siber, kebocoran data, hingga perang informasi. Oleh karena itu, pemimpin militer dituntut memiliki literasi digital yang kuat agar mampu menjaga keamanan informasi sekaligus memanfaatkan teknologi sebagai pengganda kekuatan organisasi.
Selain relevan dalam operasi militer, konsep kepemimpinan intuisi juga dinilai penting dalam membangun organisasi yang adaptif. Pemimpin yang memiliki intuisi terlatih akan lebih mampu mengenali potensi anggotanya, membangun budaya inovasi, meningkatkan motivasi personel, serta menciptakan lingkungan kerja yang responsif terhadap perubahan.
Dr. Fitry berharap penguatan kepemimpinan intuisi militer dapat menjadi bagian dari proses pembentukan pemimpin masa depan Indonesia. Menurutnya, kemampuan mengintegrasikan pengalaman, pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai kepemimpinan merupakan kebutuhan mendesak agar organisasi pertahanan memiliki daya adaptasi tinggi dalam menghadapi tantangan abad ke-21. Konsep tersebut diyakini akan memperkuat kualitas pengambilan keputusan strategis sekaligus meningkatkan kesiapan militer dalam menjaga kepentingan nasional di tengah derasnya arus transformasi digital.
Sumber: Sahary, F. T., & Hadiningrat, K. S. S. (2024). THE URGENCY OF MILITARY INTUITION LEADERSHIP TRANSFORMATION IN THE DIGITAL ERA. JIPOWER: Journal of Intellectual Power, 1(2), 15-29.


