Pendidikan terhadap anak mengenai ketahanan pangan di rumah bukan lagi sekadar topik sampingan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak di era modern saat ini. Seringkali, kita berpikir bahwa ketahanan pangan adalah urusan menteri, petani, atau kepala keluarga. Padahal, benteng ketahanan pangan yang paling nyata dimulai dari bagaimana anak-anak kita memperlakukan apa yang ada di atas piring mereka. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas mengenai mengapa dan bagaimana pendidikan ketahanan pangan harus ditanamkan sejak dini di rumah.
Pertama, mengubah perilaku sampah pangan atau food waste. Anak-anak sekarang sering kali kehilangan koneksi dengan asal-usul makanan mereka atau mereka belum paham asal makanan dari diperolehnya. Makanan dianggap sebagai sesuatu yang selalu ada di meja makan atau tinggal dipesan lewat aplikasi. Akibatnya, perilaku menyisakan makanan menjadi hal yang lumrah. Pendidikan ketahanan pangan di rumah dapat menjadi obat penawar bagi budaya instan ini. Ketika anak diajarkan menghargai setiap butir nasi atau potongan sayur, maka mereka sedang belajar menghargai proses kerja keras petani, distribusi, hingga pengolahan yang dilakukan oleh orangtua.
Kedua, membangun kemandirian lewat urban farming mini. Ketahanan pangan tidak selalu bicara soal beras berkarung-karung di gudang, melainkan tentang kemampuan bertahan. Melibatkan anak dalam aktivitas sederhana seperti menanam cabai, tomat, atau bawang di pekarangan rumah atau menanam tanaman di pot adalah metode pendidikan yang luar biasa. Anak akan belajar bahwa makanan butuh waktu untuk tumbuh, bukan instan. Terlebih lagi, mereka akan lebih bersemangat mengonsumsi sayuran yang mereka tanam dan rawat sendiri.
Ketiga, menambah literasi gizi dan memperkuat diversifikasi pangan. Sering kali, anak-anak mengalami ketergantungan pada satu jenis sumber karbohidrat saja. Misalkan, anak hanay mau makan nasi putih atau lontong atau mie. Pendidikan di rumah harus merubah pola pikiran ini.
Anak perlu diperkenalkan bahwa ketahanan pangan juga berarti keberagaman. Jika harga beras sedang naik, mereka harus terbiasa dan tidak asing dengan sumber karbohidrat lain seperti singkong, ubi jagung, atau kentang. Ini akan membuat anak menjadi individu yang adaptif di masa depan.
Kemudian, bagaimana cara memulainya di rumah? Penulis membagi langkah-langkah praktis yang mungkin bisa dilakukan di rumah. Pertama, belanja bersama orangtua dan anak. Orangtua perlu mengajarkan anak terkait cara memilih bahan makanan yang segar, memahami harga, dan membeli sesuai dengan kebutuhan rumah, bukan keinginan. Kedua, orangtua harus terbuka tentang harga budget dapur. Orangtua perlu mengajarkan anak secara bijak bahwa makanan melibatkan perencanaan keuangan keluarga yang cukup matang, bukan seenaknya. Ketiga, menerapkan first in, first out. Orangtua perlu mengajak anak untuk merapikan kulkas. Tujuannya adalah memperlihatkan makanan yang telah dibeli lebih dulu harus dikonsumsi lebih dulu agar tidak membusuk.
Mendidik anak tentang ketahanan pangan di rumah bukan bertujuan untuk membuat mereka cemas akan masa depan, melainkan untuk memberdayakan mereka. Anak yang paham ketahanan pangan akan tumbuh menjadi konsumen yang bijak, menghargai lingkungan, dan memiliki kemampuan bertahan hidup yang kuat di masa depan. Sederhananya, ketahanan pangan bangsa di masa depan ditentukan dari cara kita mendidik anak di meja makan hari ini.
Penulis: Adin Lazuardy Firdiansyah, S.Si., M.Mat.(Ketua DPC Bangkalan)


