Matahari Kota Bima di pagi menjelang siang itu sedang terik-teriknya ketika Ibu Aminah naik ke pintu belakang bemo kuning tepat di depan gapura Pasar Raya Amahami. Bemo adalah sebutan untuk angkot, yang kini sisa unitnya bisa dihitung dengan jari. Satu-dua supir masih nampak ngetem menunggu penumpang langganannya. Ya, moda angkutan yang pernah berjaya di masanya. Ibu Aminah membawa serta sekeranjang belanjaan yang terisi penuh. Namun dirinya membawa juga sepenggal rasa yang mengganjal, demi melihat sisa uang yang ada di dompetnya. Harga cabai dan tomat melambung tinggi. Pilihan ikan yang tersedia pun terbatas. Blok penjual daging dan ayam pun tidak mau ketinggalan pamer harga. “Ah, uang 250 ribu seperti tak berasa” batinnya. Fenomena ini sudah bukan hal baru bagi Ibu Aminah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsisten menunjukkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau sering kali menjadi penyumbang utama inflasi bulanan (month-to-month) di Kota Bima. Apa yang dirasakan Ibu Aminah mewakili hati hampir seluruh ibu-ibu di daerah. Fluktuasi harga pangan pokok menjadi guncangan ekonomi riil. Sebagai konsumen, posisi kita berada pada titik paling rentan. Berapa pun harga pasar akibat rantai pasok, kita sebagai price taker terpaksa menerima saja. Belum lagi bicara tentang ketergantungan Kota Bima terhadap pasokan komoditas dari luar daerah.
Sebenarnya apa sih yang membuat harga sayur dan bumbu dapur di Kota Bima cenderung tinggi? Tentu salah satu faktornya adalah transaction costs (biaya transaksi dan logistik). Tengok saja letak geografis kota ini. Wilayahnya didominasi oleh pesisir dan perbukitan rendah. Jadi, bisa dibilang kota ini bukan daerah produsen utama sayur. Sayur suka-nya tumbuh di dataran tinggi. Banyak jenis sayur-mayur tumbuh subur di dataran tinggi dengan iklim sejuk atau dingin. Suhu udara yang rendah dan kelembapan di wilayah pegunungan membuat jenis tanaman tertentu dapat berfotosintesis dan membentuk umbi atau daun dengan lebih optimal. Kembali ke soal transaction costs tadi. Pasokan sawi, tomat, hingga cabai harus menempuh perjalanan darat dan laut dari Kabupaten Bima, Dompu, bahkan Lombok. Ketika biaya bahan bakar minyak (BBM) naik atau terjadi hambatan logistik di pelayaran, struktur biaya tersebut langsung dibebankan kepada konsumen akhir. Di sinilah letak inefisiensi pasar yang setiap hari menggerus daya beli masyarakat kelas bawah.
Satu sisi, fenomenanya akan terus berulang dan menjadi tantangan ekonomi mikro. Namun di sisi lain, secara kalkulasi, bisa menjadi peluang yang anti-mainstream untuk ukuran kehidupan modern. Ibu-ibu bisa mulai mengalihkan fokusnya dari hiruk-pikuk Pasar Raya Amahami menuju tempat terdekat sekaligus ternyaman selama ini. Ya, sudut teras atau pekarangan rumah sendiri. Di bawah sengatan matahari Bima yang memiliki Hari Tanpa Hujan (HTH) 80-140 hari setahun, sebenarnya tersimpan aset ekonomi mikro yang belum sepenuhnya terkapitalisasi. Bima Raya secara satire sering diibaratkan sebagai “Negeri 13 Matahari”. Iklim daerah yang kering dan paparan sinar surya yang melimpah menjadi modal utama fotosintesis berbagai macam tumbuhan. Dengan sentuhan metode urban farming sederhana seperti pemanfaatan pot gantung, polibag, atau instalasi hidroponik mini, rumah tangga dapat melakukan lompatan besar. Sebuah rumah bisa bertransformasi dari unit konsumsi murni (pure consumer unit) menjadi unit produksi skala mikro.
Langkah taktis seperti itu secara instan memicu apa yang disebut dengan substitution effect (efek substitusi) bagi keranjang belanja keluarga. Bayangkan saat Ibu Aminah dan ibu rumah tangga lain memetik lima buah cabai rawit atau seikat kecil daun sawi dari pekarangan rumahnya sendiri. Keduanya akan digunakan untuk bahan membuat sambal dan sayur. Nah, saat itu terjadi, mereka sebenarnya telah berhasil memutus rantai ketergantungan pada hukum permintaan-penawaran di pasar raya. Logikanya, nilai ekonomi dari komoditas yang dipanen sendiri di rumah, setara dengan "mencetak uang kecil" di rumah. Akhirnya, kebutuhan pangan dasar keluarga tidak lagi bergantung berat terhadap naik-turunnya harga di pasar. Basis produksinya telah berpindah dari luar daerah ke halaman rumah sendiri.
Dampak menggulung yang paling krusial dari strategi mini itu adalah terciptanya income effect (efek pendapatan) secara tidak langsung. Berdasarkan data belanja rumah tangga, pengeluaran untuk kelompok sayur dan bumbu dapur di perkotaan bisa mencapai 10% hingga 15% dari total pendapatan bulanan. Itu nilai yang bisa sangat signifikan jika dilakukan penghematan. Ketika kebutuhan ini berhasil disubstitusi oleh hasil pekarangan sendiri, uang receh puluhan ribu yang biasanya keluar setiap hari berubah menjadi consumer surplus yang menjaga dompet ibu-ibu tidak menipis dalam waktu singkat. Akumulasi dari surplus itu tentu dapat dialokasikan kembali untuk investasi yang memiliki multiplier effect lebih tinggi, seperti perbaikan gizi protein agar tidak terpapar stunting, atau bisa juga ditabung untuk biaya pendidikan yang notabene makin melambung.
Tidak berhenti sampai di situ saja. Tidak kalah penting, gerakan menanam dengan pot di pekarangan ini memangkas biaya transaksi rumah tangga hingga menyentuh angka nol rupiah. Biasanya ini biaya yang tidak banyak disadari, karena terkucur perlahan. Berapa banyak biaya bensin motor, ongkos bemo, waktu produktif terbuang, dan energi fisik yang dihabiskan ibu-ibu Kota Bima hanya untuk membeli beberapa ikat sayuran dan beberapa ekor ikan? Dengan mendekatkan sumber pangan secara spasial dari dapur ke pekarangan, efisiensi waktu dan biaya dapat dimaksimalkan. Pangan yang dikonsumsi pun jauh lebih segar, sehat, dan tentu dapat diakses kapan saja secara simultan. Selama ini ibu-ibu yang malas ke pasar biasanya mendekatkan layanan dengan membeli di penjual gerobak dorong. Tapi bayangkan sekarang layanan sedekat itu pun bisa dibuat lebih dekat lagi tanpa ada biaya yang tak terduga! Keren kan?
Jika dibawa ke arah yang lebih makro, sebenarnya ketahanan pangan domestik ini bertindak sebagai jaring pengaman saat terjadi krisis. Ketika inflasi pangan melonjak akibat cuaca ekstrem atau kegagalan panen regional, rumah tangga yang memiliki ekosistem pangan mandiri cenderung memiliki resiliensi yang jauh lebih kuat. Mereka tidak akan mudah terjebak dalam kepanikan pasar (panic buying) karena sebagian rantai pasok untuk kebutuhan perut mereka telah dikendalikan secara mandiri dari rumah.
Pada akhirnya, pemerintah dan masyarakat harus memiliki visi yang sama tentang Urban Farming. Keduanya harus memandang gerakan ketahanan pangan dari rumah di Kota Bima bukan lagi hanya sebagai hobi pengisi waktu. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sebuah keputusan ekonomi yang sangat rasional dan strategis. Menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harga, pekarangan rumah adalah benteng pertahanan terbaik yang kita miliki. Mulai sekarang, kita harus berhenti menjadi penonton yang hanya bisa pasrah di ujung rantai pasar yang timpang. Dari setiap pot tanaman di teras rumah, kita sedang merajut kemandirian ekonomi dan kedaulatan pangan Kota Bima yang lebih tangguh, sejengkal demi sejengkal.
Penulis: Ir. Faqih Ashri, S.T., M.URP.
(Sekretaris DPW NTB)

