Di era digital, ketika kursus daring dapat diselesaikan dalam hitungan jam, sertifikasi profesional dapat diperoleh melalui berbagai platform pembelajaran, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) mampu membantu berbagai pekerjaan manusia, muncul pertanyaan yang semakin sering diperbincangkan: apakah pendidikan tinggi masih penting, atau justru skill yang lebih menentukan masa depan seseorang?
Perkembangan teknologi, globalisasi, dan transformasi dunia kerja memang telah mengubah cara manusia belajar dan bekerja. Banyak perusahaan mulai menekankan kompetensi dan pengalaman dibandingkan sekadar gelar akademik. Tidak sedikit pula kisah sukses individu yang mampu membangun bisnis, menjadi kreator digital, programmer, maupun pekerja profesional tanpa harus menempuh pendidikan tinggi yang panjang. Fenomena tersebut kemudian memunculkan anggapan bahwa pendidikan formal tidak lagi menjadi faktor utama dalam menentukan kesuksesan seseorang.
Namun, pertanyaan tersebut sebenarnya menyimpan cara pandang yang keliru. Pendidikan dan skill sering kali diposisikan sebagai dua pilihan yang harus dipertentangkan. Seolah-olah seseorang cukup memiliki salah satunya untuk mencapai kesuksesan. Padahal, pendidikan dan skill bukanlah dua kutub yang saling menggantikan. Skill lahir dari ilmu, sedangkan ilmu diperoleh melalui proses pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan merupakan fondasi yang memungkinkan seseorang untuk membangun dan mengembangkan berbagai keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan maupun dunia kerja.
Lebih jauh lagi, pendidikan tidak hanya berfungsi menghasilkan pekerja yang terampil. Pendidikan membentuk cara berpikir, karakter, kemampuan beradaptasi, serta kesadaran seseorang untuk berkontribusi kepada masyarakat. Jika skill membantu seseorang memperoleh pekerjaan, maka pendidikan membantu manusia memahami tujuan dari pekerjaannya. Jika skill menciptakan produk, pendidikan menciptakan peradaban.
Pernyataan tersebut dapat dilihat dari sejarah perkembangan bangsa-bangsa maju di dunia. Salah satu indikator yang sering digunakan untuk mengukur kualitas sumber daya manusia suatu negara adalah tingkat pendidikan masyarakatnya. Berbagai survei internasional seperti Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa negara dengan kualitas pendidikan yang baik cenderung memiliki tingkat inovasi, produktivitas, daya saing, dan kesejahteraan yang lebih tinggi. Negara-negara yang unggul dalam bidang pendidikan tidak hanya menghasilkan tenaga kerja yang kompeten, tetapi juga melahirkan ilmuwan, inovator, pemimpin, dan warga negara yang mampu mendorong kemajuan bangsa secara berkelanjutan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kemajuan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh banyaknya individu yang memiliki keterampilan teknis, melainkan oleh kualitas pendidikan yang membentuk pola pikir, budaya belajar, kemampuan berpikir kritis, serta karakter masyarakatnya. Pendidikan menjadi instrumen strategis dalam membangun peradaban karena melalui pendidikanlah nilai-nilai kebangsaan, etika, tanggung jawab sosial, dan semangat inovasi diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam konteks individu, pendidikan juga memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar memperoleh nilai akademik yang tinggi atau mendapatkan ijazah. Pendidikan yang baik seharusnya mampu membentuk manusia yang utuh. Melalui pendidikan, seseorang belajar berkomunikasi secara efektif, bekerja sama dalam tim, menyelesaikan masalah, berpikir kritis, berinovasi, menghargai perbedaan, serta memahami tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat. Kemampuan-kemampuan tersebut merupakan bekal yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi dunia kerja modern yang penuh ketidakpastian.
Saat ini, berbagai pekerjaan mengalami perubahan yang sangat cepat akibat otomatisasi dan perkembangan teknologi. Bahkan, beberapa profesi yang dahulu dianggap menjanjikan mulai tergantikan oleh sistem digital dan kecerdasan buatan. Di sisi lain, berbagai profesi baru terus bermunculan seiring perkembangan zaman. Kondisi ini menuntut setiap individu untuk mampu beradaptasi dan terus belajar sepanjang hayat.
Dalam situasi seperti ini, pendidikan berperan sebagai fondasi yang memungkinkan seseorang untuk terus mempelajari keterampilan baru. Seseorang yang memiliki dasar pendidikan yang kuat akan lebih mudah memahami perubahan, mempelajari teknologi baru, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang. Sebaliknya, tanpa fondasi pendidikan yang memadai, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan akan menjadi lebih sulit.
Oleh karena itu, persoalan utama yang perlu dibahas bukanlah memilih antara pendidikan atau skill. Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana sistem pendidikan mampu menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Pendidikan harus mampu mengikuti perkembangan teknologi, dunia industri, dan dinamika sosial yang terus berubah. Kurikulum perlu dirancang secara fleksibel agar peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata dan dunia kerja.
Di sinilah peran negara menjadi sangat penting. Pemerintah tidak cukup hanya menyediakan akses pendidikan, tetapi juga harus memastikan bahwa kebijakan pendidikan bersifat berkelanjutan sekaligus adaptif terhadap kebutuhan lapangan. Dunia pendidikan, dunia usaha, dan dunia industri perlu membangun kolaborasi yang kuat agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masa kini dan masa depan.
Selain itu, pendidikan harus menjadi hak seluruh warga negara tanpa terkecuali. Kesempatan memperoleh pendidikan yang berkualitas tidak boleh hanya dinikmati oleh kelompok tertentu. Setiap anak bangsa berhak mendapatkan akses pendidikan yang setara agar mampu mengembangkan potensinya secara maksimal. Pemerataan akses pendidikan bukan hanya persoalan keadilan sosial, tetapi juga investasi jangka panjang bagi pembangunan bangsa. Ketika akses pendidikan semakin merata, semakin besar pula peluang suatu negara untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
Pada akhirnya, pertanyaan mengenai apakah pendidikan tinggi masih penting atau skill lebih menentukan sebenarnya tidak memiliki jawaban yang bersifat hitam-putih. Jawabannya sangat bergantung pada bidang pekerjaan yang ingin ditekuni seseorang, baik sebagai pekerjaan utama maupun pekerjaan sampingan. Seorang dokter tentu membutuhkan jalur pendidikan formal yang panjang. Seorang programmer mungkin dapat mempelajari banyak hal secara mandiri. Seorang wirausahawan membutuhkan kombinasi pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman. Setiap profesi memiliki karakteristik yang berbeda.
Namun satu hal yang pasti, dunia saat ini membutuhkan individu yang tidak hanya memiliki satu kemampuan, melainkan mampu menguasai berbagai bidang dan terus belajar sepanjang hidupnya. Era modern menuntut manusia yang multitalenta, multidisiplin, dan adaptif terhadap perubahan. Kemampuan untuk belajar hal baru, berkolaborasi lintas bidang, serta memanfaatkan berbagai peluang menjadi semakin penting dalam menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.
Skill memang penting, tetapi skill yang kuat dibangun di atas fondasi ilmu yang kokoh. Dan ilmu yang kokoh lahir dari pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, pendidikan tidak boleh dipandang sebagai lawan dari skill, melainkan sebagai sumber utama yang melahirkan skill tersebut. Pendidikan memberikan arah, sedangkan skill menjadi alat untuk mewujudkan tujuan.
Dengan demikian, masa depan bukan milik mereka yang hanya berpendidikan tinggi, dan bukan pula milik mereka yang hanya memiliki keterampilan tertentu. Masa depan akan dimenangkan oleh mereka yang mampu menggabungkan pendidikan, keterampilan, karakter, kreativitas, serta kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi. Sebab pada akhirnya, skill dapat dipelajari, tetapi pendidikanlah yang membangun manusia, membangun bangsa, dan membangun peradaban.
Penulis: Tiara Rahayu, S.Si. (Kabid Media dan Publikasi DPP Bhumi Literasi)


