Jakarta – Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan dukungannya terhadap penerbitan buku yang berjudul Langit Dili 1975 (Operasi Lintas Udara Terbesar TNI), sebuah karya sejarah militer yang mengangkat rekonstruksi operasi lintas udara terbesar yang pernah dilaksanakan Tentara Nasional Indonesia pada 7 Desember 1975 di Dili, Timor Timur. Dukungan tersebut diwujudkan melalui penulisan kata pengantar yang menjadi pembuka dalam buku tersebut.
Dalam pengantarnya, Luhut menegaskan bahwa sejarah merupakan fondasi dalam membangun karakter bangsa. Menurutnya, memahami berbagai peristiwa masa lalu tidak hanya bertujuan mengenang pengorbanan para pendahulu, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran dalam menghadapi dinamika lingkungan strategis yang terus berkembang.
Ia menjelaskan bahwa Operasi Seroja yang diawali dengan operasi lintas udara merupakan salah satu operasi militer terbesar dan paling kompleks dalam sejarah TNI. Operasi tersebut memperlihatkan kemampuan perencanaan, koordinasi antarmatra, kepemimpinan lapangan, serta keberanian prajurit dalam melaksanakan tugas negara di tengah situasi yang penuh risiko dan ketidakpastian.
Luhut juga menilai buku Langit Dili 1975 berhasil menghadirkan rekonstruksi sejarah secara sistematis dengan menempatkan peristiwa tersebut dalam politik, strategi militer, serta dinamika internasional pada masa Perang Dingin. Pendekatan tersebut dinilai penting agar masyarakat dapat memahami sebuah peristiwa sejarah secara utuh dari berbagai perspektif.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa sejarah militer harus terus dipelihara sebagai bagian dari identitas bangsa. Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu memahami perjalanan sejarahnya secara menyeluruh, menghormati para pelaku sejarah, sekaligus mengambil pelajaran dari setiap keberhasilan maupun tantangan yang pernah dihadapi.
Dalam pengantar tersebut, Luhut juga memberikan penghormatan kepada seluruh prajurit yang terlibat dalam Operasi Seroja. Ia menyebut bahwa dedikasi, keberanian, loyalitas, profesionalisme, kerja sama, dan semangat pantang menyerah yang ditunjukkan para prajurit merupakan warisan moral yang tetap relevan bagi generasi TNI masa kini maupun masa depan.
Apresiasi turut disampaikan kepada penulis buku, Kolonel Inf Paulus Pandjaitan, S.H., MPICT., beserta seluruh tim penyusun yang telah menghimpun berbagai dokumen, arsip, referensi, serta kesaksian sejarah sehingga lahir sebuah karya yang diharapkan dapat menjadi referensi penting dalam khazanah sejarah pertahanan Indonesia. Menurut Luhut, upaya mendokumentasikan sejarah membutuhkan ketelitian, tanggung jawab akademik, dan komitmen yang tinggi.
Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Alungcipta bekerja sama dengan Bhumi Literasi Anak Bangsa tersebut mengulas perjalanan Operasi Seroja mulai dari latar belakang geopolitik, proses perencanaan operasi, pelaksanaan penerjunan pasukan di Dili, perang gerilya, dinamika diplomasi internasional, hingga berbagai refleksi strategis bagi perkembangan doktrin operasi gabungan TNI. Selain itu, buku tersebut juga memuat kisah keberanian para prajurit yang menjadi bagian penting dalam sejarah pengabdian Tentara Nasional Indonesia.
Melalui penerbitan buku ini, diharapkan masyarakat, kalangan akademisi, peneliti, serta prajurit TNI memperoleh referensi yang lebih komprehensif mengenai salah satu operasi militer terbesar dalam sejarah Indonesia. Dokumentasi sejarah seperti ini juga diharapkan mampu memperkuat budaya literasi, memperkaya kajian sejarah militer nasional, sekaligus menjadi media pembelajaran bagi generasi penerus bangsa.
Dukungan Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan terhadap penerbitan Langit Dili 1975 (Operasi Lintas Udara Terbesar TNI) menjadi bukti pentingnya pelestarian sejarah sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa. Melalui buku ini, nilai-nilai kepemimpinan, profesionalisme, pengabdian, dan pengorbanan para prajurit diharapkan terus hidup serta menjadi inspirasi dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
