Di era digital, informasi seolah tidak pernah berhenti mengalir. Setiap hari kita disuguhi berita, unggahan media sosial, video pendek, hingga berbagai pendapat yang muncul hanya dalam hitungan detik. Ironisnya, semakin banyak informasi yang kita konsumsi, tidak selalu membuat kita semakin berpengetahuan. Banyak orang merasa sudah “membaca” hanya karena melihat judul berita, membaca beberapa kalimat, atau menonton video singkat. Padahal, mengetahui informasi dan memahami informasi adalah dua hal yang berbeda. Di tengah derasnya arus informasi, kebiasaan membaca secara mendalam justru semakin terpinggirkan.
Membaca bukan sekadar aktivitas melihat rangkaian kata, melainkan proses memahami, menghubungkan, dan mempertanyakan informasi. Ketika seseorang terbiasa menerima informasi secara cepat dan singkat, kemampuan untuk memahami persoalan secara utuh dapat melemah. Kita mudah percaya pada judul yang provokatif tanpa membaca isi berita, cepat menyimpulkan sesuatu tanpa mengetahui konteks, bahkan ikut menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Akibatnya, banyak informasi masuk ke kepala, tetapi hanya sedikit yang benar-benar dipahami. Pengetahuan akhirnya menjadi kumpulan potongan informasi yang tidak saling terhubung.
Persoalan yang lebih serius muncul ketika kebiasaan tersebut memengaruhi cara berpikir. Membaca buku, artikel panjang, atau tulisan yang membutuhkan konsentrasi memang membutuhkan waktu dan kesabaran. Sebaliknya, media digital menawarkan informasi yang cepat, ringkas, dan terus berganti. Kita akhirnya terbiasa dengan kecepatan, tetapi kehilangan kedalaman. Padahal, berpikir kritis membutuhkan kemampuan untuk melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, memahami sebab-akibat, serta membandingkan berbagai sumber. Semua itu sulit diperoleh jika kita hanya mengandalkan informasi yang lewat sekilas di layar.
Karena itu, persoalan literasi hari ini bukan lagi sekadar apakah seseorang mampu membaca atau tidak. Tantangannya adalah apakah seseorang mau membaca secara serius dan mampu memahami apa yang dibacanya. Memiliki akses terhadap ribuan buku dan jutaan informasi tidak otomatis menjadikan masyarakat berpengetahuan. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan membaca yang berkualitas: membaca sampai tuntas, memeriksa sumber, mencatat gagasan penting, dan berani mempertanyakan informasi yang diterima. Membaca harus dikembalikan sebagai aktivitas berpikir, bukan sekadar aktivitas mengonsumsi konten.
Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang paling banyak menerima informasi, melainkan masyarakat yang mampu mengolah informasi menjadi pengetahuan dan pengetahuan menjadi kebijaksanaan. Banyak informasi tanpa kebiasaan membaca hanya akan menghasilkan pikiran yang penuh tetapi dangkal. Sebaliknya, membaca secara mendalam dapat melatih seseorang untuk bersabar, kritis, dan tidak mudah terseret arus. Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, kemampuan untuk berhenti sejenak, membuka buku, membaca dengan sungguh-sungguh, dan berpikir lebih dalam justru menjadi bentuk kemerdekaan intelektual yang semakin penting.
Ditulis oleh: Agung Prasetyo Wibowo (Sekretaris Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa)
