Kita sering merasa sudah menjadi masyarakat yang melek literasi karena hampir semua orang bisa membaca dan menulis. Namun, kemampuan membaca secara harfiah belum tentu menunjukkan bahwa seseorang memiliki kebiasaan membaca. Di tengah kemudahan akses informasi melalui media sosial, mesin pencari, dan berbagai platform digital, membaca buku justru sering dianggap sebagai aktivitas yang berat dan membosankan. Kita bisa membaca ratusan unggahan dalam sehari, tetapi belum tentu mampu menyelesaikan satu buku dalam sebulan. Pertanyaannya sederhana: bisa membaca, tetapi kapan terakhir kali kita benar-benar membaca buku?
Fenomena tersebut menunjukkan adanya perubahan cara masyarakat memperoleh informasi. Jari kita begitu cepat menggulir layar, tetapi perhatian kita semakin sulit bertahan pada bacaan yang panjang. Judul berita, potongan video, dan unggahan singkat lebih mudah menarik perhatian daripada halaman demi halaman sebuah buku. Akibatnya, kita terbiasa menerima informasi secara cepat tanpa memberikan waktu yang cukup untuk memahami, mempertanyakan, dan menghubungkan informasi tersebut dengan pengetahuan lain. Padahal, membaca buku bukan sekedar aktivitas memperoleh informasi, melainkan latihan untuk berpikir secara lebih mendalam.
Kemalasan membaca juga dapat berdampak pada kemampuan seseorang dalam memahami persoalan. Orang yang jarang membaca cenderung mudah menerima informasi tanpa memeriksa kebenarannya. Di era banjir informasi dan maraknya berita palsu, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Buku menawarkan kesempatan untuk melihat suatu persoalan secara lebih utuh karena pembahasannya biasanya lebih mendalam dan terstruktur. Dengan membaca, seseorang tidak hanya menambah kosakata dan pengetahuan, tetapi juga belajar memahami sudut pandang yang berbeda serta membangun argumentasi berdasarkan pengetahuan.
Karena itu, budaya membaca tidak cukup dibangun hanya dengan menyediakan perpustakaan atau mengajak masyarakat membeli buku. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan membaca dalam kehidupan sehari-hari. Tidak harus langsung membaca puluhan halaman setiap hari. Lima belas atau dua puluh menit sehari sudah dapat menjadi langkah awal. Buku juga tidak harus selalu berupa buku pelajaran atau karya ilmiah yang berat. Novel, biografi, sejarah, esai, maupun buku pengembangan diri dapat menjadi pilihan sesuai minat. Yang terpenting adalah konsistensi untuk menyediakan waktu bagi diri sendiri agar kembali akrab dengan buku.
Kemerdekaan dari buta aksara seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengenali huruf dan memahami kalimat. Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu menggunakan kemampuan membaca untuk memperluas wawasan, mempertajam pikiran, dan memahami dunia dengan lebih baik. Jangan sampai kita hidup di zaman ketika buku semakin mudah ditemukan, tetapi semakin jarang disentuh. Jadi, sebelum mengaku sebagai masyarakat yang literat, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: kapan terakhir kali kita membaca sebuah buku sampai selesai?
Ditulis oleh: Prasetyo Budhi Setiawan, S.Psi. (Wakil Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa)
