Kalau ada obrolan akademis yang teriak-teriak bahwa kita sedang dijajah korporasi digital, reaksi orang kebanyakan paling cuma senyum tipis sambil lanjut scroll video pendek sampai larut malam. Mana ada ceritanya korban penjajahan tapi mukanya girang karena dapat voucer gratis ongkir dan tontonan lucu tanpa bayar? Dulu penjajah memeras keringat dengan cambuk, sekarang mereka cukup menyediakan layar berpendar yang bikin kita sukarela menyerahkan waktu tidur. Mengutip keresahan Prince Ea dalam Modern Life is A Scam, peradaban modern ini memang jebakan paling rapi: kita merasa semakin maju dan bebas, padahal sejatinya cuma disulap jadi pekerja lelah yang menghabiskan sisa umur demi membiayai ilusi kebahagiaan di layar kaca.
Masyarakat akar rumput jelas tidak merasa terjajah karena penaklukan zaman sekarang tidak terasa menyakitkan, melainkan memabukkan. Kita dituntun masuk ke dalam lingkaran setan modernitas: banting tulang dari pagi sampai malam demi membeli barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan, hanya untuk pamer ke orang-orang di linimasa yang aslinya tidak kita pedulikan. Data dan perhatian kita disedot habis-habisan setiap detik, tapi kita menganggapnya transaksi yang impas selama kebutuhan validasi diri dan hiburan instan terpenuhi. Kita merasa menang banyak saat dapat akses aplikasi gratisan, padahal tanpa sadar kitalah produk yang sedang diperjualbelikan.
Keributan harian kita di media sosial sejatinya bukan perlawanan heroik melawan hegemoni global, melainkan letupan gegar budaya lintas generasi yang salah kaprah. Generasi tua sibuk panik moral dan mudah termakan kabar hoaks di grup percakapan keluarga, sementara generasi muda pontang-panting mengejar standar hidup palsu para pesohor internet sampai kena serangan panik. Jutaan konten telah mengingatkan betapa konyolnya manusia modern yang lebih peduli pada angka pengikut dan tanda suka daripada kualitas hubungan nyata di depan mata. Kita sama-sama kagok: yang satu kaget teknologi, yang satu lagi jiwanya digadaikan ke algoritma.
Tengok saja pemandangan di kedai kopi modern mana pun: sekumpulan orang duduk melingkar di satu meja, tetapi jemari dan pandangan mereka terpaku bisu pada kotak kaca masing-masing. Kita membayar mahal segelas kopi kekinian bukan untuk menikmati obrolan hangat, melainkan demi memotret cangkirnya agar kelihatan punya hidup yang mapan dan berkelas. Teknologi berhasil membuat kita terhubung dengan orang di belahan bumi lain dalam hitungan detik, tetapi di saat yang sama sukses membunuh kemampuan kita untuk sekadar menatap mata kawan bicara di sebelah. Ironi modernitas ini membuat kita sibuk mendokumentasikan hidup, sampai lupa bagaimana caranya benar-benar hidup.
Jadi, daripada sibuk berkhotbah memakai jargon elitis soal bahaya kolonialisme digital, mari jujur pada diri sendiri bahwa masalah terbesarnya adalah kegagapan kita mengendalikan nafsu konsumsi dan ego. Kita tidak sedang ditindas oleh kekuatan gaib dari luar negeri; kitalah yang sukarela menyerahkan kendali hidup, waktu bersama keluarga, dan ketenangan batin demi kilauan semu dunia digital. Menuduh teknologi sebagai penjajah cuma alibi empuk untuk menutupi fakta bahwa kita memang terlalu malas berbenah dan sudah kepalang menikmati penipuan gaya hidup modern ini.
Ditulis oleh: Mahendra Bhirawa, S.E., S.H., M.Sc. (Kabid Penelitian dan Pengembangan)
