Literasi tidak semestinya dipahami hanya sebagai kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi merupakan proses membangun cara berpikir, keberanian mengambil sikap, serta kemampuan menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat. Pandangan tersebut disampaikan Dr. Nugraha Gumilar, M.Sc., Dewan Pembina Bhumi Literasi Anak Bangsa.
Menurut Nugraha, kemampuan membaca dan menulis hanyalah fondasi awal dalam membangun budaya literasi. Esensi literasi terletak pada bagaimana seseorang mampu memahami informasi, mengolah pengetahuan, berpikir kritis, kemudian menjadikannya sebagai dasar untuk mengambil keputusan dan bertindak secara bertanggung jawab.
“Literasi bukan sekedar kemampuan membaca dan menulis, tetapi keberanian untuk berpikir, bergerak, dan memberi manfaat bagi sesama,” ujar Nugraha.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa gerakan literasi harus memiliki orientasi yang lebih luas. Literasi diharapkan tidak berhenti pada aktivitas membaca buku atau menghasilkan tulisan, tetapi mampu mendorong lahirnya individu yang memiliki kepedulian terhadap persoalan di sekitarnya dan berani mengambil peran untuk menghadirkan perubahan.
Dalam kehidupan masyarakat, kemampuan literasi menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi. Masyarakat tidak hanya dituntut mampu memperoleh informasi, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk memilah, memeriksa, dan memahami informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Karena itu, gerakan literasi perlu dibangun secara berkelanjutan dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Literasi dapat hadir melalui diskusi, kegiatan menulis, pengembangan pengetahuan, pendidikan masyarakat, hingga berbagai kegiatan sosial yang mendorong seseorang untuk belajar sekaligus memberikan kontribusi.
Bhumi Literasi Anak Bangsa memandang bahwa budaya literasi dapat menjadi salah satu instrumen untuk membangun sumber daya manusia yang lebih kritis, kreatif, dan berdaya. Gerakan tersebut tidak hanya diarahkan kepada mereka yang berada di lingkungan pendidikan formal, tetapi juga kepada masyarakat luas.
Nugraha menilai keberanian untuk berpikir merupakan salah satu karakter penting yang harus tumbuh melalui budaya literasi. Seseorang yang memiliki kemampuan literasi diharapkan tidak mudah menerima informasi begitu saja, melainkan mampu bertanya, menganalisis, membandingkan berbagai perspektif, dan mengambil kesimpulan berdasarkan pengetahuan yang memadai.
Namun, kemampuan berpikir juga perlu diikuti keberanian untuk bergerak. Pengetahuan yang hanya tersimpan dalam pikiran tanpa diwujudkan dalam tindakan akan memiliki dampak yang terbatas. Karena itu, literasi idealnya mendorong seseorang untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi gagasan, karya, kegiatan, dan pengabdian yang memberikan manfaat bagi orang lain.
Bagi Bhumi Literasi Anak Bangsa, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa tujuan akhir gerakan literasi bukan sekedar menciptakan masyarakat yang gemar membaca atau mampu menghasilkan tulisan, melainkan membangun manusia yang berpikir dengan pengetahuan, bergerak dengan kepedulian, dan memberi manfaat bagi sesama. Dengan semangat tersebut, literasi diharapkan benar-benar menjadi gerakan yang membumi dan mampu menghadirkan perubahan positif di tengah masyarakat.
.png)