Kita hidup di zaman ketika informasi berada dalam genggaman. Dengan satu sentuhan jempol, seseorang dapat berpindah dari satu berita ke berita lain, menggulir media sosial, menonton video pendek, hingga membaca berbagai komentar tentang persoalan yang sedang ramai diperbincangkan. Ironisnya, kemudahan mengakses informasi tidak selalu membuat masyarakat semakin gemar membaca. Jempol justru semakin aktif berselancar, sementara mata semakin malas menatap halaman demi halaman buku. Kita memang telah jauh dari persoalan buta aksara, tetapi tantangan baru muncul: kemampuan membaca belum tentu diikuti oleh kemauan membaca secara mendalam.
Budaya membaca perlahan bergeser menjadi budaya menggulir. Banyak orang terbiasa menerima informasi dalam potongan pendek, judul yang provokatif, atau video berdurasi beberapa detik. Akibatnya, membaca tulisan panjang terasa melelahkan dan membosankan. Kita ingin mengetahui banyak hal, tetapi sering tidak bersedia meluangkan waktu untuk memahami sesuatu secara utuh. Padahal, membaca bukan sekadar aktivitas untuk memperoleh informasi, melainkan proses melatih kesabaran, konsentrasi, imajinasi, dan kemampuan memahami persoalan dari berbagai sudut pandang.
Masalahnya menjadi lebih serius ketika kebiasaan membaca secara dangkal memengaruhi cara kita berpikir. Judul berita sering dianggap sudah mewakili seluruh isi berita. Potongan pernyataan diperlakukan sebagai kebenaran utuh, sedangkan konteks sering diabaikan. Tidak mengherankan jika informasi yang belum tentu benar mudah dipercaya dan disebarkan kembali. Masyarakat yang malas membaca secara mendalam akan lebih mudah terjebak dalam kesimpulan terburu-buru. Pada titik inilah kemalasan membaca bukan lagi sekadar persoalan kebiasaan pribadi, tetapi dapat menjadi persoalan kualitas berpikir masyarakat.
Karena itu, membangun budaya membaca tidak cukup hanya dengan mengajak orang memiliki buku atau menyediakan perpustakaan. Yang lebih penting adalah menumbuhkan kesadaran bahwa membaca merupakan kebutuhan untuk memperluas wawasan dan mempertajam nalar. Keluarga, sekolah, kampus, pemerintah, media, dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendorong kebiasaan membaca. Teknologi pun tidak harus menjadi musuh. Gawai dapat dimanfaatkan untuk membaca buku digital, artikel berkualitas, jurnal, dan berbagai sumber pengetahuan. Persoalannya bukan pada teknologi, melainkan pada bagaimana kita menggunakannya.
Ukuran masyarakat yang maju bukan hanya berapa banyak orang yang mampu membaca, tetapi juga berapa banyak orang yang mau membaca dan mampu memahami apa yang dibacanya. Jangan sampai jempol kita begitu rajin berselancar dari satu konten ke konten lain, tetapi mata dan pikiran kehilangan kesabaran untuk membaca sesuatu yang lebih panjang dan bermakna. Kita sudah merdeka dari buta aksara. Kini saatnya membebaskan diri dari kemalasan membaca, karena bangsa yang gemar membaca bukan hanya memiliki lebih banyak informasi, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis, bijak, dan tidak mudah dipermainkan oleh informasi.
Ditulis oleh: Rizqi Munandhar, S.Si., M.Si. (Kabid Program dan Kegiatan Literasi DPP Bhumi Literasi)
