Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa, Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc., mengajak generasi muda Indonesia untuk menjadikan literasi sebagai bagian dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kemerdekaan Indonesia tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai kesempatan bagi setiap anak bangsa untuk membangun masa depan melalui pengetahuan, kreativitas, dan karakter.
Ajakan tersebut disampaikan Rizal dalam momentum peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Ia menilai generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah perjalanan bangsa di tengah perubahan zaman yang semakin cepat. Kemajuan teknologi dan arus informasi yang begitu deras, menurutnya, harus diimbangi dengan kemampuan membaca, berpikir kritis, memilah informasi, serta menghasilkan karya yang memberikan manfaat.
“Generasi muda harus menjadi generasi yang literat, kritis, kreatif, dan berkarakter. Jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus mampu menciptakan gagasan dan karya yang memberikan dampak bagi masyarakat,” ujar Rizal.
Rizal menegaskan bahwa literasi memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekedar kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, mengolah pengetahuan, mengambil keputusan, berkomunikasi, serta menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Karena itu, budaya literasi perlu dibangun secara berkelanjutan dan dimulai dari lingkungan terdekat.
Menurutnya, generasi muda Indonesia saat ini memiliki peluang besar untuk berkembang karena akses terhadap informasi dan teknologi semakin terbuka. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan berupa banjir informasi, disinformasi, budaya instan, dan rendahnya kemampuan menyaring berbagai konten. Kondisi tersebut membutuhkan generasi yang tidak hanya cepat menerima informasi, tetapi juga mampu memeriksa dan mengkritisinya.
Rizal mengajak anak muda untuk tidak takut membaca, berdiskusi, menulis, dan menyampaikan gagasan. Menurutnya, sebuah perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Satu buku yang dibaca, satu gagasan yang ditulis, dan satu pengetahuan yang dibagikan kepada orang lain dapat menjadi bagian dari proses membangun masyarakat yang lebih berpengetahuan.
Bhumi Literasi Anak Bangsa, lanjut Rizal, berkomitmen untuk terus mendorong gerakan literasi yang tumbuh dari masyarakat. Gerakan tersebut tidak hanya berorientasi pada kegiatan membaca, tetapi juga mendorong masyarakat untuk menulis, berdiskusi, menghasilkan karya, serta menjadikan pengetahuan sebagai kekuatan untuk menyelesaikan persoalan di lingkungan masing-masing.
Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan bangsa bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Generasi muda, komunitas, dunia pendidikan, keluarga, dan berbagai elemen masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya. Kolaborasi berbagai pihak diperlukan agar gerakan literasi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Dalam semangat Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur, Rizal berharap generasi muda dapat memaknai kemerdekaan dengan cara yang lebih substantif. Kemerdekaan, menurutnya, harus diwujudkan melalui keberanian untuk belajar, berpikir, berkarya, dan memberikan kontribusi bagi bangsa. Generasi muda harus mampu menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk menghadapi berbagai ketidakpastian masa depan.
“Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya bangga menjadi warga negara Indonesia, tetapi juga mau berbuat untuk Indonesia. Mari membaca, mari menulis, mari berkarya, dan mari membangun Indonesia melalui gerakan literasi yang berkelanjutan,” pungkas Rizal. Ia berharap semangat tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju Indonesia yang semakin maju dengan generasi yang cerdas, kritis, kreatif, dan berkarakter.
