Gerakan literasi tidak hanya diukur dari jumlah buku yang berhasil diterbitkan, tetapi juga dari dampak yang dirasakan oleh masyarakat. Semangat tersebut kembali ditegaskan oleh Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa, Rizal Mutaqin, yang menilai bahwa literasi merupakan jembatan untuk mempererat hubungan antarmanusia sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.
Menurut Rizal Mutaqin, Bhumi Literasi sejak awal didirikan bukan semata-mata menjadi wadah penerbitan buku. Organisasi ini dibangun dengan semangat menghadirkan ruang bagi siapa saja untuk bertemu, berdiskusi, saling menguatkan, dan berkembang bersama melalui kegiatan literasi yang inklusif.
"Bhumi Literasi tidak hanya menerbitkan buku, tetapi juga membangun persahabatan, kolaborasi, dan harapan bagi banyak orang," ujar Rizal Mutaqin saat menyampaikan pandangannya mengenai arah pengembangan gerakan literasi yang dijalankan Bhumi Literasi Anak Bangsa.
Ia menjelaskan bahwa setiap buku yang diterbitkan memiliki cerita panjang yang melibatkan banyak pihak. Mulai dari penulis, editor, desainer, akademisi, hingga berbagai mitra, semuanya berkontribusi dalam menghasilkan karya yang tidak hanya bernilai ilmiah maupun inspiratif, tetapi juga mempererat jejaring antarsesama pegiat literasi.
Rizal menambahkan, proses tersebut melahirkan banyak persahabatan baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Berbagai latar belakang profesi, usia, dan daerah dapat dipersatukan dalam satu tujuan, yaitu menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan meningkatkan budaya membaca serta menulis di tengah masyarakat.
Selain membangun jejaring, Bhumi Literasi juga terus mendorong kolaborasi dengan berbagai lembaga, baik institusi pendidikan, pemerintah, komunitas, maupun organisasi masyarakat. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi kunci agar gerakan literasi mampu menjangkau lebih banyak daerah dan memberikan manfaat yang semakin luas.
Menurutnya, harapan menjadi nilai penting yang selalu dibawa dalam setiap program. Tidak sedikit penulis pemula yang awalnya ragu akhirnya berhasil menerbitkan buku pertamanya. Begitu pula para mahasiswa, guru, dan masyarakat umum yang memperoleh motivasi untuk terus berkarya setelah mendapatkan pendampingan dari Bhumi Literasi.
Rizal berharap semangat berbagi ilmu dan membangun kolaborasi terus tumbuh di berbagai daerah. Ia meyakini bahwa ketika masyarakat saling mendukung dan membuka ruang kerja sama, gerakan literasi akan berkembang menjadi kekuatan sosial yang mampu mendorong kemajuan bangsa.
Melalui komitmen tersebut, Bhumi Literasi Anak Bangsa bertekad untuk terus menghadirkan berbagai program yang tidak hanya menghasilkan karya tulis, tetapi juga menciptakan ekosistem yang penuh semangat kebersamaan. Dengan demikian, literasi menjadi lebih dari sekedar aktivitas membaca dan menulis, melainkan gerakan yang menghadirkan persahabatan, kolaborasi, serta harapan bagi masa depan Indonesia.
