Teknologi digital telah menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Dalam hitungan detik, kita dapat berkomunikasi dengan orang di belahan dunia lain, memperoleh informasi, melakukan transaksi, belajar, bekerja, hingga membangun bisnis. Kehadiran internet, kecerdasan buatan, dan berbagai platform digital telah membuat kehidupan menjadi lebih cepat dan praktis. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah kita benar-benar sedang menguasai teknologi, atau perlahan justru teknologi yang menguasai cara kita hidup?
Persoalannya bukan terletak pada teknologi itu sendiri, melainkan pada bagaimana manusia menggunakannya. Ketika seseorang tidak lagi mampu mengendalikan waktu penggunaan gawai, terus-menerus mengejar notifikasi, atau merasa harus mengikuti setiap tren di media sosial, teknologi mulai mengambil alih kendali. Algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna dapat menentukan konten apa yang kita lihat, informasi apa yang kita konsumsi, bahkan secara tidak langsung memengaruhi cara kita memandang suatu persoalan. Dalam kondisi seperti ini, manusia bukan lagi sekedar pengguna teknologi, tetapi dapat berubah menjadi objek yang perilakunya dipengaruhi oleh teknologi.
Lebih jauh, era digital juga menghadirkan persoalan tentang data dan privasi. Setiap aktivitas digital meninggalkan jejak: pencarian di internet, lokasi, kebiasaan berbelanja, tontonan, hingga interaksi di media sosial. Data tersebut memiliki nilai ekonomi dan strategis yang sangat besar. Karena itu, masyarakat perlu menyadari bahwa kenyamanan yang diberikan oleh berbagai layanan digital sering kali memiliki konsekuensi berupa pertukaran data. Tanpa literasi digital yang memadai, seseorang dapat dengan mudah menjadi konsumen yang tidak sadar bahwa perilaku dan preferensinya sedang dipetakan, dianalisis, dan dimanfaatkan.
Di sinilah literasi menjadi sangat penting. Literasi digital tidak cukup hanya dengan kemampuan menggunakan telepon pintar, media sosial, atau aplikasi tertentu. Literasi digital harus mencakup kemampuan memahami bagaimana teknologi bekerja, mengenali informasi yang menyesatkan, menjaga keamanan data pribadi, memahami algoritma, serta berpikir kritis sebelum menerima dan menyebarkan informasi. Manusia yang literat secara digital bukanlah mereka yang paling banyak memiliki aplikasi, melainkan mereka yang mampu menggunakan teknologi secara sadar, produktif, etis, dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikan kendali manusia atas kehidupannya sendiri. Kita tidak perlu takut terhadap perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, tetapi juga tidak boleh menyerahkan seluruh keputusan kepada mesin dan algoritma. Pertanyaan “kita menguasai teknologi, atau justru dikuasai teknologi?” harus menjadi bahan refleksi bersama. Kemajuan sejati bukan sekadar ketika manusia mampu menciptakan teknologi yang semakin canggih, tetapi ketika manusia tetap memiliki kendali, kebijaksanaan, dan kebebasan dalam menggunakannya. Teknologi harus berada di tangan manusia, bukan manusia yang berada di bawah kendali teknologi.
Ditulis oleh: Akbar Hanjaya Putra (Ketua DPC Jember)