-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Profil

Iklan

Indeks Berita

Kolonialisme Sudah Berganti Wajah, Apakah Kita Menyadarinya?

Sunday, August 2, 2026 | August 02, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-03T06:25:07Z

 


Ketika mendengar kata kolonialisme, sebagian besar dari kita masih membayangkan penjajahan yang dilakukan melalui kekuatan militer, perebutan wilayah, atau eksploitasi sumber daya alam. Padahal, wajah kolonialisme pada abad ke-21 telah mengalami transformasi yang sangat berbeda. Kini, penguasaan tidak lagi harus dilakukan dengan mengibarkan bendera di tanah jajahan, melainkan melalui dominasi teknologi, data, algoritma, dan arus informasi. Tanpa disadari, kehidupan masyarakat semakin bergantung pada ekosistem digital yang sebagian besar dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan teknologi global. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar menyadari perubahan wajah kolonialisme tersebut?

Era digital memang menghadirkan berbagai kemudahan yang tidak dapat dipungkiri. Aktivitas belajar, bekerja, bertransaksi, hingga berinteraksi sosial kini berlangsung dalam hitungan detik melalui perangkat digital. Namun, setiap aktivitas itu juga menghasilkan data yang memiliki nilai ekonomi dan strategis sangat tinggi. Data tentang kebiasaan, preferensi, lokasi, hingga pola konsumsi masyarakat menjadi komoditas yang terus dikumpulkan, dianalisis, dan dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis maupun pengembangan teknologi. Dalam hal ini, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna layanan digital, tetapi juga menjadi sumber daya yang terus menghasilkan nilai bagi pihak yang menguasai platform tersebut.

Kolonialisme digital bekerja secara halus karena tidak memaksa, melainkan membangun ketergantungan. Algoritma menentukan informasi yang kita lihat, media sosial memengaruhi cara kita berinteraksi, sementara kecerdasan buatan semakin berperan dalam berbagai keputusan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari. Semakin besar ketergantungan terhadap teknologi yang dikembangkan pihak lain, semakin kecil ruang bagi bangsa untuk mengendalikan ekosistem digitalnya sendiri. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa penguatan kapasitas nasional, Indonesia berisiko menjadi pasar yang besar, tetapi bukan pemain utama dalam ekonomi digital global.

Karena itu, membangun kedaulatan digital harus menjadi agenda bersama. Literasi digital perlu diarahkan tidak hanya pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga pada kesadaran kritis mengenai pentingnya perlindungan data pribadi, keamanan siber, etika digital, dan pemahaman terhadap cara kerja algoritma. Di saat yang sama, pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan komunitas harus bersinergi untuk memperkuat riset, inovasi, serta pengembangan teknologi nasional agar Indonesia memiliki daya saing yang lebih mandiri di tengah persaingan global.

Kolonialisme memang telah berganti wajah, tetapi tujuannya tetap sama, yakni menguasai sumber daya yang bernilai strategis. Jika dahulu yang diperebutkan adalah rempah-rempah, emas, dan hasil bumi, kini yang menjadi rebutan adalah data, perhatian, dan perilaku manusia. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat menjadi benteng pertama dalam menjaga kedaulatan bangsa di era digital. Kemajuan teknologi tidak boleh ditolak, tetapi juga tidak boleh diterima tanpa sikap kritis. Sebab, bangsa yang mampu menguasai teknologinya sendiri akan menjadi pelaku perubahan, sedangkan bangsa yang hanya bergantung pada teknologi pihak lain berisiko menjadi objek dari kolonialisme dengan wajah yang baru.


Ditulis oleh:  Agung Prasetyo Wibowo (Sekretaris Umum)

×
Berita Terbaru Update