-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Profil

Iklan

Indeks Berita

Membaca Tak Kalah Penting dari Sekedar Bisa Membaca

Sunday, August 23, 2026 | August 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-24T06:31:09Z

 


Kemampuan membaca sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang telah terbebas dari buta aksara. Padahal, bisa membaca hanyalah langkah awal menuju proses yang jauh lebih penting, yakni membangun budaya membaca. Seseorang mungkin mampu mengenali huruf, memahami kalimat, dan menyelesaikan sebuah teks, tetapi belum tentu memiliki kebiasaan membaca untuk memperluas pengetahuan. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan membaca semestinya tidak berhenti pada aktivitas mengenali kata, melainkan berkembang menjadi kebiasaan memahami, menilai, dan memaknai informasi.

Ironisnya, kemajuan teknologi justru menghadirkan tantangan baru bagi budaya membaca. Informasi tersedia dalam jumlah yang melimpah melalui media sosial, mesin pencari, dan berbagai platform digital. Namun, kelimpahan informasi tidak otomatis melahirkan masyarakat yang gemar membaca. Banyak orang lebih terbiasa membaca judul daripada keseluruhan berita, menyerap potongan informasi daripada memahami konteks, atau menggulir layar berjam-jam daripada menuntaskan beberapa halaman buku. Kita semakin mudah mendapatkan informasi, tetapi belum tentu semakin dalam memahami persoalan.

Kondisi tersebut patut menjadi perhatian karena kebiasaan membaca sangat berkaitan dengan kualitas berpikir. Membaca secara utuh mengajarkan seseorang untuk memahami konteks, membandingkan gagasan, mengenali sudut pandang, dan menarik kesimpulan dengan lebih hati-hati. Sebaliknya, kebiasaan mengonsumsi informasi secara singkat dan sepotong-sepotong dapat membuat seseorang mudah mengambil kesimpulan berdasarkan kesan pertama. Tidak sedikit perdebatan di ruang publik terjadi bukan karena orang kekurangan informasi, melainkan karena informasi yang dimiliki tidak dibaca dan dipahami secara menyeluruh.

Karena itu, gerakan literasi tidak boleh berhenti pada keberhasilan mengajarkan masyarakat agar bisa membaca. Tantangan berikutnya adalah bagaimana membuat membaca menjadi kebiasaan dan kebutuhan. Sekolah perlu menciptakan suasana yang membuat buku tidak hanya hadir sebagai bagian dari tugas, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan dan kesenangan. Keluarga dapat membangun kebiasaan membaca sejak dini, sementara masyarakat dan pemerintah perlu memperluas akses terhadap buku serta ruang-ruang membaca yang mudah dijangkau. Di era digital, membaca juga dapat dilakukan melalui buku elektronik, artikel bermutu, jurnal, dan berbagai sumber pengetahuan yang kredibel.

Bangsa yang literat bukan sekadar bangsa yang penduduknya mampu membaca, tetapi bangsa yang menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan. Bisa membaca memberi seseorang kemampuan untuk membuka pintu pengetahuan, sedangkan kebiasaan membaca membuatnya benar-benar masuk dan menjelajahi dunia di balik pintu tersebut. Karena itu, setelah berhasil membebaskan masyarakat dari buta aksara, pekerjaan berikutnya adalah membebaskan masyarakat dari kemalasan membaca. Sebab, membaca bukan sekadar kemampuan mengenali kata, melainkan jalan untuk membentuk manusia yang berpengetahuan, kritis, dan mampu berpikir secara mendalam.


Ditulis oleh: drg. Rully Zaidan Andaria (Kabid Humas dan Kerjasama DPP Bhumi Literasi)

×
Berita Terbaru Update