Fakfak — Wakil Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa, Prasetyo Budhi Setiawan, S.Psi., terus menunjukkan kiprahnya di bidang literasi melalui karya-karya berbentuk buku. Hingga 9 Agustus 2026, Prasetyo tercatat telah menulis tiga buku yang mengangkat beragam tema, mulai dari kebudayaan daerah, dinamika panggung dunia, hingga potret Papua dari perspektif yang lebih dekat.
Ketiga buku tersebut masing-masing berjudul Mozaik Budaya Fakfak, Dibalik Riuhnya Panggung Dunia, dan Papua Dari Dekat. Kehadiran tiga karya tersebut memperlihatkan konsistensi Prasetyo dalam menjadikan tulisan sebagai sarana untuk mendokumentasikan gagasan, kebudayaan, serta berbagai realitas sosial yang memiliki nilai bagi masyarakat.
Buku Mozaik Budaya Fakfak mengangkat kekayaan budaya Fakfak, Papua Barat. Melalui karya tersebut, keberagaman budaya dan identitas masyarakat setempat menjadi bagian penting yang dihadirkan dalam ruang literasi. Buku ini menjadi salah satu bentuk perhatian terhadap kekayaan lokal sekaligus upaya untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada pembaca yang lebih luas.
Sementara itu, Dibalik Riuhnya Panggung Dunia menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Judul tersebut menggambarkan ketertarikan penulis terhadap berbagai dinamika yang berlangsung di balik peristiwa dan panggung yang menjadi perhatian publik. Karya ini melengkapi perjalanan kepenulisan Prasetyo dengan perspektif yang lebih luas mengenai berbagai fenomena dan kehidupan di balik sorotan.
Karya ketiga, Papua Dari Dekat, menjadi salah satu karya yang secara khusus membawa pembaca untuk melihat Papua dari perspektif yang lebih dekat. Buku tersebut merupakan karya Prasetyo Budhi Setiawan, S.Psi. bersama Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc. dan membahas antara lain budaya, nilai kemanusiaan, serta potensi pembangunan di Papua. Bhumi Literasi Anak Bangsa juga telah menggelar kegiatan bedah buku untuk membahas karya tersebut.
Kehadiran ketiga buku tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa aktivitas literasi tidak hanya berhenti pada kegiatan membaca, tetapi juga dapat diwujudkan melalui proses menulis dan mendokumentasikan gagasan. Bagi seorang pegiat literasi, karya buku dapat menjadi medium untuk menyampaikan pengetahuan sekaligus membuka ruang dialog mengenai berbagai persoalan yang ada di tengah masyarakat.
Sebagai Waketum Bhumi Literasi Anak Bangsa, kiprah Prasetyo dalam menulis juga memiliki keterkaitan dengan semangat organisasi dalam mendorong budaya literasi. Karya-karya yang dihasilkan dapat menjadi bagian dari kontribusi dalam memperkaya bahan bacaan, khususnya tulisan yang mengangkat kebudayaan, kemanusiaan, dan realitas masyarakat Indonesia.
Tiga buku tersebut juga memperlihatkan adanya kesinambungan tema dalam perjalanan kepenulisan Prasetyo. Dari kekayaan budaya Fakfak, dinamika di balik panggung dunia, hingga upaya melihat Papua secara lebih dekat, karya-karya tersebut menunjukkan perhatian terhadap manusia, budaya, serta berbagai realitas yang membentuk kehidupan masyarakat.
Pencapaian tiga buku hingga 9 Agustus 2026 menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan Prasetyo Budhi Setiawan sebagai penulis. Jumlah tersebut bukan sekedar angka, tetapi juga mencerminkan proses kreatif dan komitmen untuk terus menghasilkan karya yang dapat dibaca, didiskusikan, serta menjadi bahan refleksi bagi masyarakat.
Dengan tiga karya yang telah ditulis, Prasetyo Budhi Setiawan diharapkan terus melanjutkan kontribusinya dalam dunia literasi. Melalui Mozaik Budaya Fakfak, Dibalik Riuhnya Panggung Dunia, dan Papua Dari Dekat, kiprahnya menjadi bagian dari upaya menghadirkan bacaan yang mengangkat kebudayaan, kemanusiaan, dan berbagai perspektif tentang Indonesia kepada masyarakat luas.
