-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Profil

Iklan

Indeks Berita

Kenapa Lapar Itu Nikmat?

Wednesday, September 2, 2026 | September 02, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-03T04:03:30Z


Belakangan ini saya justru bertanya kepada diri sendiri: kenapa lapar terasa nikmat? Bukan lapar karena tidak punya makanan, bukan pula lapar karena sedang menjalankan ibadah puasa, tetapi lapar dalam arti sederhana, perut belum sepenuhnya terisi karena kita memilih makan secukupnya. Entah kenapa, kondisi seperti itu sekarang justru memberikan sensasi yang berbeda. Ada rasa ringan, tenang, bahkan semacam kepuasan yang sulit dijelaskan.

Saya masih makan nasi seperti biasa. Dalam sehari biasanya dua sampai tiga kali, tetapi lebih sering dua kali. Tidak ada aturan yang terlalu ketat. Saya hanya berusaha berhenti sebelum merasa terlalu kenyang. Ketika ada makanan atau camilan enak di depan mata, saya pun mulai bisa berkata kepada diri sendiri, "Tidak harus dimakan." Anehnya, kemampuan untuk tidak mengambil makanan itu justru menghadirkan kenikmatan tersendiri.

Dulu, makanan enak sering kali terasa seperti sesuatu yang harus segera dinikmati. Kalau ada gorengan, kue, camilan, atau makanan favorit, rasanya sayang kalau dilewatkan. Sekarang pandangannya sedikit berubah. Melihat makanan enak tidak selalu berarti harus memakannya. Ada kepuasan lain ketika kita mampu melihat, mencium aromanya, kemudian membiarkannya tetap berada di tempatnya. Rasanya seperti berhasil memenangkan pertarungan kecil melawan keinginan diri sendiri.

Yang lebih menarik, saya justru lebih menikmati air putih dan kopi pahit tanpa gula. Air putih terasa begitu menyegarkan ketika diminum dalam kondisi tidak terlalu kenyang. Kopi pahit pun terasa lebih nikmat ketika tidak ditutupi rasa manis. Mungkin selama ini kenikmatan bukan selalu tentang semakin banyak yang kita konsumsi, melainkan tentang kemampuan kita merasakan sesuatu secara sederhana.

Barangkali rasa lapar juga mengajarkan kita tentang batas. Ketika terlalu kenyang, makanan yang sebenarnya lezat pun kehilangan sebagian kenikmatannya. Sebaliknya, ketika perut memberikan sedikit ruang, makanan sederhana bisa terasa luar biasa. Nasi hangat, telur, sayur, bahkan segelas air putih dapat terasa lebih berarti. Rasa lapar, dalam batas yang wajar, seperti mengembalikan kepekaan kita terhadap sesuatu yang selama ini terlalu mudah kita dapatkan.

Ada pula kenikmatan psikologis ketika kita mampu mengatakan "cukup". Dunia hari ini seolah terus mengajarkan kita untuk menambah: tambah makanan, tambah minuman, tambah camilan, tambah porsi, tambah kesenangan. Padahal mungkin ada saatnya manusia belajar mengurangi. Bukan karena makanan adalah sesuatu yang buruk, tetapi karena tidak semua yang tersedia harus kita ambil.

Dalam kondisi itu, lapar bukan lagi sekedar keadaan tubuh, tetapi bisa menjadi latihan pengendalian diri. Kita belajar bahwa keinginan tidak selalu harus dipenuhi. Ada makanan yang boleh dimakan, tetapi tidak harus dimakan sekarang. Ada camilan yang menarik perhatian, tetapi tidak harus masuk ke perut. Ada keinginan yang cukup kita sadari tanpa harus kita ikuti. Barangkali kemampuan sederhana seperti inilah yang membuat rasa lapar terasa menyenangkan.

Namun tentu saja, menikmati lapar bukan berarti sengaja menyiksa diri atau membiarkan tubuh kekurangan asupan. Lapar yang saya maksud adalah rasa lapar yang muncul karena makan secara cukup dan tidak berlebihan. Tubuh tetap membutuhkan makanan dan nutrisi yang memadai. Jadi, persoalannya bukan memilih lapar daripada makan, melainkan belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Mungkin yang sebenarnya sedang saya nikmati bukanlah rasa laparnya, melainkan perasaan bahwa saya mulai bisa mengendalikan diri. Ada kebahagiaan ketika kita tidak lagi menjadi budak dari setiap keinginan. Tidak semua aroma harus dikejar, tidak semua makanan harus dicicipi, dan tidak semua kesempatan untuk makan harus dimanfaatkan. Kadang-kadang, membiarkan diri sedikit lapar justru membuat kita lebih menghargai saat ketika akhirnya makan.

Mungkin lapar itu nikmat karena ia mengingatkan kita bahwa kenikmatan tidak selalu lahir dari kepenuhan. Ada kalanya justru ruang kosong yang membuat sesuatu terasa lebih berarti. Segelas air putih setelah menahan haus, kopi pahit tanpa gula, dan makanan sederhana setelah perut mulai meminta asupan, semuanya terasa berbeda ketika kita tidak berlebihan. Barangkali hidup pun demikian: kita tidak selalu membutuhkan lebih banyak untuk merasa bahagia; terkadang kita hanya perlu belajar mengatakan, "sudah cukup."


Ditulis oleh: Rizal Mutaqin (Ketum Bhumi Literasi)

×
Berita Terbaru Update