Bencana pada dasarnya bukan hanya persoalan ketika sebuah peristiwa alam terjadi. Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, sebuah bencana dapat berkembang menjadi krisis berlapis yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan sekaligus. Banjir misalnya, tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi dapat mengganggu pendidikan, aktivitas ekonomi, kesehatan masyarakat, transportasi, hingga distribusi kebutuhan pokok. Ketika satu persoalan memicu persoalan lainnya, dampaknya menjadi jauh lebih besar daripada kejadian awal. Karena itu, kesiapsiagaan tidak cukup hanya mempersiapkan masyarakat menghadapi satu jenis ancaman, tetapi harus mampu mengantisipasi berbagai dampak yang saling berkaitan.
Krisis berlapis membutuhkan masyarakat yang mampu berpikir cepat, kritis, dan adaptif. Informasi menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan. Dalam situasi bencana, masyarakat membutuhkan informasi yang akurat mengenai kondisi wilayah, peringatan dini, jalur evakuasi, kebutuhan bantuan, hingga perkembangan situasi. Sebaliknya, informasi yang keliru, hoaks, atau pesan yang tidak terverifikasi dapat memperbesar kepanikan dan menghambat penanganan. Oleh sebab itu, literasi informasi dan literasi digital menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan. Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk membaca situasi sekaligus menyaring informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.
Di sinilah Bhumi Literasi Anak Bangsa dapat mengambil peran strategis. Gerakan literasi tidak semestinya hanya berbicara tentang buku dan kemampuan membaca, tetapi juga tentang kemampuan masyarakat memahami berbagai persoalan yang ada di sekitarnya. Literasi kebencanaan dapat menjadi salah satu ruang pengabdian melalui diskusi, penulisan, edukasi publik, kampanye digital, dan kegiatan komunitas. Bhumi Literasi dapat mendorong masyarakat untuk memahami bahwa sebuah bencana dapat menimbulkan dampak berantai, sehingga kesiapsiagaan harus dibangun dengan pendekatan yang lebih luas dan tidak sektoral.
Selain meningkatkan pengetahuan, Bhumi Literasi dapat menjadi ruang untuk mengumpulkan dan mendokumentasikan pengalaman masyarakat dalam menghadapi krisis. Setiap daerah memiliki cerita, tantangan, dan strategi bertahan yang berbeda. Pengalaman tersebut dapat diubah menjadi artikel, buku, dokumentasi, maupun materi pembelajaran sehingga dapat menjadi referensi bagi masyarakat. Dengan mendokumentasikan pengalaman, kita tidak hanya menyimpan sejarah bencana, tetapi juga membangun bank pengetahuan yang dapat digunakan untuk memperbaiki kesiapsiagaan pada masa mendatang. Dari pengalaman lahir pembelajaran, dari pembelajaran lahir kesiapan.
Menghadapi krisis berlapis membutuhkan perubahan cara berpikir: dari sekedar merespons bencana menuju membangun kemampuan untuk mengantisipasi, beradaptasi, dan pulih. Masyarakat harus diposisikan bukan hanya sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai bagian aktif dari sistem kesiapsiagaan. Bhumi Literasi Anak Bangsa percaya bahwa literasi yang membumi dapat menjadi salah satu fondasi untuk membangun masyarakat yang tangguh. Ketika risiko bencana berubah menjadi krisis berlapis, maka pengetahuan, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi harus menjadi kekuatan bersama agar masyarakat tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mampu bangkit dan belajar dari setiap krisis.
Ditulis oleh: Rizqi Munandhar, S.Si., M.Si. (Kabid Program dan Kegiatan Literasi Bhumi Literasi Anak Bangsa)
