-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Profil

Iklan

Indeks Berita

Bekerja dengan Integritas, Berkarya Tanpa Bergantung pada Apresiasi

Friday, October 9, 2026 | October 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-09T16:40:04Z

Ada fase dalam perjalanan profesional seseorang ketika ia mulai mengubah cara pandangnya terhadap pekerjaan, tanggung jawab, dan penilaian orang lain. Pada awal perjalanan, mungkin kita begitu bersemangat mendapatkan pengakuan, berharap setiap usaha diapresiasi, dan ingin memastikan bahwa atasan melihat kita sebagai orang yang kompeten. Namun, seiring waktu dan pengalaman, kita mulai memahami bahwa tidak semua kerja keras akan mendapatkan pengakuan yang semestinya. Dari situ, perlahan tumbuh kesadaran bahwa bekerja dengan baik jauh lebih penting daripada terus-menerus berusaha terlihat baik di mata orang lain.


Pada titik tertentu, saya sampai pada pemahaman bahwa saya tidak bisa terus-menerus menggantungkan semangat bekerja pada penilaian atasan. Bukan berarti saya tidak menghormati pimpinan, mengabaikan arahan, atau merasa paling benar. Saya hanya mulai menyadari bahwa ada hal-hal yang berada dalam kendali saya dan ada pula hal-hal yang berada di luar kendali saya. Kualitas pekerjaan, kesungguhan, kedisiplinan, dan tanggung jawab adalah bagian yang bisa saya kendalikan. Sementara itu, bagaimana orang lain menilai hasil kerja saya merupakan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa saya tentukan.


Bagi saya, tugas utama seorang profesional bukanlah menghabiskan energi untuk membangun citra di hadapan atasan, melainkan memastikan bahwa setiap amanah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Tugas harus diselesaikan, tanggung jawab harus dituntaskan, dan pekerjaan harus memberikan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika terlalu sibuk memikirkan bagaimana diri kita dinilai, kita berisiko kehilangan fokus pada hal yang sesungguhnya paling penting, yaitu pekerjaan itu sendiri. Organisasi tidak hanya membutuhkan orang yang pandai mendapatkan penilaian baik, tetapi juga orang yang konsisten bekerja dan menghasilkan sesuatu yang nyata.


Lalu, bagaimana jika pekerjaan kita dinilai baik? Tentu, Alhamdulillah. Itu berarti ada apresiasi yang diberikan terhadap usaha dan hasil kerja kita. Pengakuan tersebut patut diterima dengan rasa syukur, bukan kesombongan. Namun, bagaimana jika pekerjaan yang sudah dilakukan dengan sungguh-sungguh justru dinilai buruk? Bagi saya, Alhamdulillah juga. Bukan karena kritik tidak penting atau penilaian buruk harus dianggap sepele, melainkan karena saya belajar bahwa satu penilaian tidak serta-merta menentukan seluruh kapasitas, integritas, dan nilai diri seseorang. Penilaian tersebut bisa menjadi bahan evaluasi, meskipun belum tentu sepenuhnya menggambarkan kenyataan.


Tentu, sikap ini bukan berarti menolak kritik atau menutup diri terhadap kekurangan. Jika terdapat kesalahan, saya harus berani mengakuinya. Jika ada pekerjaan yang belum memenuhi standar, saya harus memperbaikinya. Jika atasan memberikan masukan yang objektif dan membangun, sudah semestinya masukan tersebut dijadikan bahan untuk bertumbuh. Namun, jika saya telah bekerja sesuai prosedur, menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, dan memberikan kemampuan terbaik, saya juga tidak perlu kehilangan ketenangan hanya karena penilaian yang saya terima tidak sesuai dengan harapan. Evaluasi adalah bagian dari profesionalisme, tetapi menggantungkan harga diri pada penilaian orang lain adalah perkara yang berbeda.


Saya juga memahami bahwa setiap orang memiliki sudut pandang, pengalaman, kepentingan, dan kapasitas yang berbeda dalam menilai sesuatu. Atasan tetap manusia yang memiliki keterbatasan dalam memahami seluruh proses pekerjaan bawahannya. Ada hasil kerja yang terlihat, tetapi ada pula proses panjang yang tidak selalu diketahui. Ada kontribusi yang mudah diukur, tetapi ada juga upaya yang tidak langsung tampak di permukaan. Karena itu, penilaian seseorang tidak selalu menjadi gambaran yang utuh tentang kualitas pekerjaan orang lain. Namun, kesadaran ini tidak seharusnya membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang yang menilai. Sebaliknya, kita perlu tetap rendah hati, terbuka terhadap evaluasi, dan mampu membedakan antara kritik yang bermanfaat dengan penilaian yang kurang mencerminkan kondisi sebenarnya.


Pada akhirnya, saya memilih untuk menghemat energi dari hal-hal yang tidak bisa saya kendalikan dan mengarahkannya kepada hal-hal yang bisa saya perbaiki. Daripada terus memikirkan apakah atasan menyukai cara kerja saya, lebih baik saya memastikan bahwa pekerjaan selesai tepat waktu. Daripada sibuk bertanya-tanya mengapa kontribusi saya kurang diapresiasi, lebih baik saya meningkatkan kompetensi dan menghasilkan karya berikutnya. Daripada larut dalam kekecewaan karena penilaian yang tidak sesuai harapan, lebih baik saya menjadikannya sebagai pengingat untuk terus belajar. Energi, waktu, dan pikiran terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk mengejar pengakuan yang belum tentu datang.


Bagi saya, berkarya juga tidak seharusnya bergantung pada tepuk tangan. Karya yang baik tetap memiliki nilai, bahkan ketika belum mendapatkan perhatian yang luas. Gagasan yang bermanfaat tetap layak diperjuangkan, meskipun tidak semua orang langsung memahaminya. Begitu pula dengan pekerjaan, kualitas dan manfaatnya tidak semestinya hanya diukur dari seberapa besar pujian yang diterima. Apresiasi tentu menyenangkan, tetapi bukan satu-satunya alasan untuk terus bekerja dan berkarya. Ada tanggung jawab yang harus ditunaikan, ada kemampuan yang perlu dikembangkan, dan ada manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain. Selama semua itu masih bisa dilakukan, selalu ada alasan untuk melangkah maju.


Sikap ini juga menuntut kedewasaan dalam menyikapi hubungan antara bawahan dan atasan. Kita tetap harus menghormati hierarki, menaati aturan, menerima arahan yang sah, serta menjalankan kewajiban organisasi dengan baik. Tidak peduli pada penilaian atasan bukan berarti tidak peduli terhadap kepemimpinan. Yang ingin dilepaskan adalah ketergantungan emosional terhadap penilaian tersebut, bukan tanggung jawab profesional kepada pimpinan dan organisasi. Kita tidak harus selalu mendapatkan pujian untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, sebagaimana kita tidak perlu berhenti berkarya hanya karena tidak memperoleh pengakuan. Integritas justru diuji ketika kita tetap memberikan yang terbaik meskipun tidak ada jaminan bahwa usaha kita akan dihargai sebagaimana mestinya.


Pada akhirnya, saya ingin sampai pada satu prinsip sederhana, yaitu bekerja sebaik mungkin, menuntaskan tanggung jawab, terus belajar, dan terus berkarya. Jika dinilai baik, Alhamdulillah, berarti ada apresiasi yang patut disyukuri. Jika dinilai buruk, Alhamdulillah juga, karena selalu ada kesempatan untuk mengevaluasi diri, memperkuat mental, dan belajar memahami bahwa tidak semua penilaian harus menjadi beban pikiran. Jika kritik itu benar, perbaiki diri. Jika penilaian itu kurang tepat, tetaplah tenang dan biarkan konsistensi menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan oleh perdebatan. Saya tidak harus memenangkan setiap penilaian, apalagi membuktikan diri kepada semua orang. Cukuplah saya memastikan bahwa hari ini saya telah menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh dan tidak berhenti menghasilkan karya yang bermanfaat. Sebab, tujuan bekerja bukan semata-mata mendapatkan pengakuan, melainkan memberikan yang terbaik melalui tanggung jawab yang dipercayakan.

×
Berita Terbaru Update