Jakarta – Dewan Pengurus Pusat Bhumi Literasi Anak Bangsa resmi menetapkan dua momentum penting dalam perjalanan organisasi melalui Surat Keputusan Nomor 031/SK/BHUMI-LITERASI/VI/2026 tentang Penetapan Hari Bersejarah Bhumi Literasi Anak Bangsa. Keputusan ini menjadi langkah strategis untuk menjaga dan melestarikan sejarah organisasi sekaligus memperkuat identitas gerakan literasi yang terus berkembang di Indonesia.
Penetapan tersebut didasarkan pada kajian historis, filosofis, dan organisatoris yang disusun oleh Dewan Pengurus Pusat Bhumi Literasi Anak Bangsa pada 2 Juni 2026. Kajian itu menyimpulkan bahwa terdapat dua tanggal yang memiliki nilai penting dalam perjalanan organisasi, yaitu 11 Mei dan 1 September.
Dalam surat keputusan tersebut, tanggal 11 Mei ditetapkan sebagai Hari Lahir Bhumi Literasi Anak Bangsa. Tanggal ini dipilih karena merupakan momentum berdirinya komunitas Bhumi Literasi Anak Bangsa pada 11 Mei 2022 yang diprakarsai oleh Rizal Mutaqin dan Dwi Shinta Dharmopadni sebagai wadah bagi penulis pemula maupun penulis profesional.
Menurut kajian organisasi, lahirnya Bhumi Literasi Anak Bangsa memiliki makna yang sangat istimewa. Nama “Bhumi Literasi Anak Bangsa” muncul beberapa jam setelah kelahiran anak pertama pendirinya yang bernama Bhumi. Momentum tersebut kemudian menjadi simbol lahirnya gagasan besar untuk membangun budaya literasi di tengah masyarakat Indonesia.
Sementara itu, tanggal 1 September ditetapkan sebagai Hari Organisasi Bhumi Literasi Anak Bangsa. Penetapan ini didasarkan pada pelaksanaan Musyawarah Nasional Bhumi Literasi Anak Bangsa pada 1 September 2025 di Jakarta yang menjadi tonggak penting transformasi komunitas menjadi organisasi dengan struktur kepengurusan nasional.
Musyawarah Nasional tersebut menandai terbentuknya sistem organisasi yang lebih terstruktur melalui pembentukan Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dewan Pengurus Wilayah (DPW), dan Dewan Pengurus Cabang (DPC). Sejak saat itu, Bhumi Literasi Anak Bangsa memiliki mekanisme organisasi yang lebih kuat dalam menjalankan berbagai program literasi di berbagai daerah.
Dari sisi filosofis, kedua tanggal tersebut memiliki makna yang saling melengkapi. Tanggal 11 Mei merepresentasikan kelahiran ide, semangat, dan cita-cita literasi, sedangkan tanggal 1 September melambangkan penguatan kelembagaan, tata kelola organisasi, serta keberlanjutan gerakan literasi yang telah dibangun.
Dewan Pengurus Pusat menilai bahwa penetapan hari bersejarah ini akan memberikan manfaat besar bagi organisasi, antara lain memperkuat identitas organisasi, meningkatkan rasa memiliki di kalangan anggota, menjadi sarana edukasi sejarah organisasi, serta menjaga kesinambungan nilai dan semangat para pendiri.
Melalui keputusan tersebut, seluruh unsur organisasi baik di tingkat pusat, wilayah, maupun cabang diwajibkan memperingati kedua momentum tersebut setiap tahun. Peringatan dapat diwujudkan dalam berbagai kegiatan seperti seminar, pelatihan, peluncuran buku, penghargaan literasi, pengabdian kepada masyarakat, dan kegiatan lain yang mendukung tujuan organisasi.
Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa, Rizal Mutaqin, berharap penetapan Hari Lahir dan Hari Organisasi dapat menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen seluruh anggota dalam memajukan literasi Indonesia. Dengan adanya dua hari bersejarah ini, Bhumi Literasi Anak Bangsa semakin meneguhkan posisinya sebagai gerakan literasi yang berakar pada sejarah, semangat perjuangan, dan visi keberlanjutan bagi generasi masa depan.


