Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa, Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc., menggelar pertemuan secara daring dengan jajaran pimpinan Dewan Pengurus Wilayah Bhumi Literasi Anak Bangsa Nusa Tenggara Barat. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi antara pengurus pusat dan wilayah.
Dalam pertemuan tersebut, Rizal Mutaqin mengundang Ketua DPW Bhumi Literasi Anak Bangsa NTB, Rizqi Munandhar, S.Si., M.Si., serta Wakil Ketua DPW Bhumi Literasi Anak Bangsa NTB, Fazhurrahman, S.STP., M.AP. Kehadiran para pimpinan wilayah ini menunjukkan pentingnya pembahasan yang dilakukan untuk kemajuan organisasi ke depan.
Lantas, ada apa di balik pertemuan daring tersebut? Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Sekretaris Umum, pertemuan dilakukan untuk memperkuat komunikasi dan konsolidasi organisasi antara pengurus pusat dan daerah. Langkah ini dinilai penting agar seluruh program organisasi dapat berjalan selaras dengan visi dan misi yang telah ditetapkan bersama.
Selain membahas aspek kelembagaan, pertemuan juga menjadi sarana evaluasi terhadap berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan oleh DPW NTB. Pengurus pusat ingin memperoleh gambaran langsung mengenai perkembangan program literasi, tantangan yang dihadapi, serta peluang pengembangan yang dapat dilakukan di masa mendatang.
Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa menekankan bahwa peran wilayah sangat penting dalam menggerakkan budaya literasi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, komunikasi yang intensif antara pusat dan daerah harus terus dijaga agar berbagai program dapat memberikan dampak yang lebih luas.
Dalam diskusi tersebut, Rizqi Munandhar menyampaikan sejumlah perkembangan kegiatan literasi yang telah dijalankan di Nusa Tenggara Barat. Berbagai program yang melibatkan masyarakat, pelajar, mahasiswa, dan komunitas menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran literasi di daerah.
Sementara itu, Fazhurrahman turut memberikan masukan terkait strategi penguatan organisasi dan perluasan jejaring kerja sama. Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mengembangkan gerakan literasi yang berkelanjutan.
Pertemuan daring tersebut juga membahas rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Pengurus pusat dan wilayah bertukar gagasan mengenai inovasi program yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat eksistensi Bhumi Literasi Anak Bangsa di berbagai daerah.
Selain itu, terdapat pembahasan mengenai pentingnya pengembangan sumber daya manusia dalam organisasi. Penguatan kapasitas pengurus dinilai menjadi faktor penting untuk memastikan setiap program dapat dikelola secara profesional, efektif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melalui pertemuan daring ini, Bhumi Literasi Anak Bangsa menunjukkan komitmennya untuk terus membangun sinergi antara pengurus pusat dan daerah. Hasil diskusi diharapkan menjadi landasan bagi pengembangan program-program literasi yang lebih inovatif, inklusif, dan berkelanjutan, khususnya di Nusa Tenggara Barat dan Indonesia pada umumnya.


