Kota Bima – Komitmen terhadap peningkatan literasi dan kepedulian lingkungan terus ditunjukkan oleh Lurah Nae Kota Bima, Fazhurrahman, S.STP., M.AP. Selain aktif menjalankan tugas pemerintahan, ia juga dikenal sebagai pegiat literasi nasional yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPW Bhumi Literasi Anak Bangsa Nusa Tenggara Barat.
Dedikasi tersebut diwujudkan melalui penulisan buku berjudul “Revolusi Pengelolaan Sampah”, sebuah karya yang mengangkat berbagai gagasan, strategi, dan solusi dalam menghadapi persoalan sampah yang semakin kompleks di Indonesia, khususnya di Kelurahan Nae Kota Bima. Buku ini diharapkan menjadi referensi bagi masyarakat, akademisi, pemerhati lingkungan, maupun pemerintah daerah dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Dalam proses penyusunannya, Fazhurrahman berkolaborasi dengan tokoh Bhumi Literasi Anak Bangsa yang memiliki perhatian besar terhadap isu lingkungan dan pendidikan masyarakat. Kolaborasi ini menjadi kekuatan utama buku tersebut karena memadukan perspektif praktis di lapangan dengan kajian ilmiah dan gerakan literasi.
Salah satu penulis yang terlibat adalah Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc., yang merupakan Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa. Sosok yang dikenal aktif mendorong budaya literasi di berbagai daerah di Indonesia ini memberikan kontribusi pemikiran terkait pentingnya edukasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Turut bergabung dalam penulisan buku tersebut Rizqi Munandhar, S.Si., M.Si., Ketua DPW Bhumi Literasi Anak Bangsa Nusa Tenggara Barat. Dengan latar belakang akademik di bidang sains, Rizqi memberikan penguatan pada aspek ilmiah mengenai pengelolaan sampah, teknologi pengolahan limbah, serta pemanfaatan sampah sebagai sumber daya yang bernilai ekonomi.
Buku “Revolusi Pengelolaan Sampah” membahas berbagai isu penting, mulai dari tantangan pengelolaan sampah perkotaan, pengurangan sampah dari sumbernya, pengembangan ekonomi sirkular, hingga pemanfaatan sampah menjadi energi alternatif. Berbagai contoh praktik dari Kota Bima juga turut diangkat sebagai inspirasi bagi pembaca.
Menurut Fazhurrahman, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis semata. Diperlukan perubahan pola pikir masyarakat melalui edukasi dan gerakan literasi lingkungan yang berkesinambungan. Oleh karena itu, buku ini hadir sebagai media pembelajaran yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan.
Kolaborasi para penulis dalam buku ini juga mencerminkan sinergi antara dunia pemerintahan, akademisi, dan komunitas literasi. Ketiganya memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan mengelola sampah secara bertanggung jawab.
Kehadiran buku tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak karena dianggap relevan dengan kondisi saat ini, ketika banyak daerah masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Melalui pendekatan edukatif dan berbasis solusi, buku ini diharapkan mampu mendorong lahirnya gerakan masyarakat yang lebih peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Dengan ditulisnya buku “Revolusi Pengelolaan Sampah”, Fazhurrahman bersama Rizal Mutaqin dan Rizqi Munandhar berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan lingkungan yang berkelanjutan. Buku ini sekaligus menjadi bukti bahwa gerakan literasi tidak hanya berfokus pada budaya membaca dan menulis, tetapi juga menjadi sarana untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang dihadapi bangsa.

.png)
