Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai orang yang gemar meremehkan orang lain. Mereka menganggap hasil karya orang lain tidak berkualitas, usaha orang lain tidak berarti, atau pencapaian orang lain tidak layak diapresiasi. Sekilas, sikap seperti ini tampak menunjukkan keunggulan. Namun jika dipahami lebih dalam, meremehkan orang lain justru sering kali menjadi tanda bahwa seseorang sedang berusaha mencari pengakuan dengan cara yang kurang tepat.
Orang yang benar-benar unggul biasanya tidak sibuk menjatuhkan orang lain. Mereka lebih fokus mengembangkan diri dan menghasilkan karya. Sebaliknya, orang yang merasa perlu meremehkan sering kali ingin menciptakan kesan bahwa dirinya lebih baik. Dengan menunjukkan kekurangan orang lain, mereka berharap posisi mereka terlihat lebih tinggi. Padahal ukuran kualitas seseorang tidak ditentukan oleh seberapa sering ia mengkritik, melainkan oleh apa yang telah ia lakukan.
Dalam dunia kepenulisan, fenomena ini cukup mudah ditemukan. Ada orang yang dengan percaya diri mengatakan bahwa sebuah buku tidak berbobot, tidak menarik, atau tidak layak dibaca. Namun ketika ditelusuri lebih jauh, ternyata ia sendiri belum pernah menulis buku. Bahkan menulis bukan bagian dari aktivitas yang ia tekuni. Tentu setiap orang berhak memberikan pendapat, tetapi ada perbedaan antara kritik yang membangun dengan komentar yang hanya bertujuan merendahkan.
Menulis buku bukan pekerjaan sederhana. Di balik sebuah buku terdapat proses panjang yang melibatkan membaca, berpikir, meneliti, menulis, merevisi, hingga berani mempertanggungjawabkan gagasan di hadapan publik. Tidak semua orang mampu melewati proses tersebut. Karena itu, menghargai karya orang lain merupakan bentuk kedewasaan yang seharusnya dimiliki siapa pun, terlepas dari setuju atau tidak setuju terhadap isi karya tersebut.
Bukan berarti sebuah buku tidak boleh dikritik. Kritik tetap penting sebagai sarana evaluasi dan perbaikan. Namun kritik yang sehat lahir dari niat untuk membantu karya menjadi lebih baik. Kritik yang sehat juga disertai argumentasi yang jelas dan solusi yang konstruktif. Berbeda dengan sikap meremehkan yang hanya berhenti pada penilaian negatif tanpa kontribusi nyata.
Saya pribadi memiliki pandangan yang berbeda dalam menyikapi orang yang lebih baik atau lebih berpengalaman. Ketika bertemu seseorang yang memiliki kemampuan di atas saya, yang muncul bukan keinginan untuk menjatuhkan, melainkan keinginan untuk belajar. Jika memungkinkan, saya justru lebih senang mengajaknya berkolaborasi. Sebab kolaborasi membuka ruang untuk saling melengkapi dan menghasilkan sesuatu yang lebih besar daripada kemampuan individu masing-masing.
Dalam banyak bidang, kemajuan justru lahir dari kerja sama. Penulis bekerja sama dengan editor, akademisi bekerja sama dengan peneliti lain, dan pemimpin bekerja sama dengan timnya. Tidak ada keberhasilan besar yang lahir semata-mata dari sikap merasa paling hebat. Sebaliknya, kemampuan menghargai kelebihan orang lain merupakan salah satu ciri orang yang memiliki mental bertumbuh.
Sikap meremehkan juga sering kali menutup kesempatan belajar. Ketika seseorang terlalu sibuk mencari kekurangan orang lain, ia kehilangan waktu untuk memperbaiki dirinya sendiri. Akibatnya, perkembangan dirinya berjalan lebih lambat. Ia merasa sudah berada di posisi yang tinggi, padahal sesungguhnya belum menghasilkan karya yang dapat menjadi bukti nyata atas kemampuan yang diklaimnya.
Di era yang penuh kompetisi seperti sekarang, masyarakat membutuhkan lebih banyak orang yang mampu membangun, bukan menjatuhkan. Kita membutuhkan individu yang berani berkarya, berbagi pengalaman, serta saling mendukung untuk berkembang. Perbedaan kualitas dan kemampuan adalah hal yang wajar, tetapi perbedaan tersebut seharusnya menjadi alasan untuk saling belajar, bukan saling meremehkan.
Seseorang tidak akan menjadi lebih hebat hanya karena berhasil merendahkan orang lain. Kehebatan sejati lahir dari karya, kontribusi, dan kemampuan menghargai sesama. Jika kita menemukan orang yang lebih baik, belajarlah darinya. Jika memungkinkan, berkolaborasilah dengannya. Sebab dunia akan menjadi lebih maju ketika orang-orang memilih membangun kerja sama daripada mendirikan tembok kesombongan.
Penulis: Rizal Mutaqin (Ketum Bhumi Literasi)


