Jakarta – Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa, Rizal Mutaqin, menilai bahwa latihan pemrograman atau coding memiliki manfaat yang jauh lebih besar dibanding sekedar mengajarkan prajurit menulis baris-baris kode komputer. Menurutnya, kemampuan pemrograman merupakan investasi sumber daya manusia yang sangat penting untuk menghadapi era digital dan tantangan pertahanan modern.
Rizal menjelaskan bahwa melalui latihan pemrograman, prajurit dilatih untuk berpikir logis dalam menghadapi berbagai persoalan. Setiap perintah dalam bahasa pemrograman menuntut ketepatan logika sehingga peserta terbiasa menganalisis masalah secara runtut sebelum mengambil keputusan. Kebiasaan ini dinilai sangat relevan dengan karakter tugas militer yang membutuhkan ketelitian dan kecepatan berpikir.
Selain meningkatkan kemampuan berpikir logis, latihan pemrograman juga membentuk pola pikir yang sistematis. Seorang prajurit harus memahami bahwa setiap langkah dalam penyusunan program memiliki urutan yang tidak dapat diabaikan. Kesalahan kecil dapat menyebabkan sistem tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kebiasaan bekerja secara terstruktur tersebut kemudian terbawa dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
Menurut Rizal Mutaqin, manfaat lain yang dirasakan adalah meningkatnya kemampuan pemecahan masalah. Saat membuat program, peserta sering dihadapkan pada berbagai kendala atau kesalahan sistem yang harus diselesaikan melalui proses analisis. Pengalaman tersebut melatih prajurit untuk tetap tenang, mencari akar persoalan, dan menentukan solusi yang efektif dalam berbagai situasi.
Latihan pemrograman juga membangun sikap teliti dan fokus terhadap detail. Dalam dunia coding, kesalahan satu karakter saja dapat mengakibatkan kegagalan program. Oleh karena itu, prajurit yang terbiasa melakukan debugging atau memperbaiki kesalahan program akan memiliki tingkat ketelitian yang lebih tinggi dalam melaksanakan tugas kedinasan.
Rizal menegaskan bahwa kemampuan pemrograman dapat meningkatkan daya saing prajurit di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Penguasaan teknologi memungkinkan prajurit tidak hanya menjadi pengguna perangkat digital, tetapi juga mampu berperan sebagai pengembang solusi teknologi sesuai kebutuhan organisasi.
Di lingkungan militer, kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung analisis data, pengelolaan informasi, pengembangan aplikasi internal, hingga mendukung aspek keamanan siber. Dengan demikian, pemrograman menjadi salah satu kompetensi strategis yang dapat memperkuat kesiapan organisasi menghadapi dinamika ancaman masa depan.
Latihan pemrograman juga mendorong lahirnya budaya inovasi. Prajurit didorong untuk berpikir kreatif dalam menciptakan berbagai solusi berbasis teknologi yang dapat meningkatkan efektivitas pekerjaan. Inovasi yang muncul dari internal organisasi dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.
"Pemrograman bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga membentuk pola pikir dan mentalitas yang adaptif terhadap perubahan," ujar Rizal. Menurutnya, prajurit yang memiliki kemampuan teknologi akan lebih siap menghadapi transformasi digital yang kini terjadi di hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk sektor pertahanan.
Berdasarkan berbagai temuan penelitian yang dilakukan Rizal Mutaqin bersama timnya, latihan pemrograman terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan berpikir logis, sistematis, pemecahan masalah, ketelitian, kolaborasi, serta adaptasi teknologi. Oleh karena itu, pengembangan kompetensi pemrograman perlu terus didorong sebagai bagian dari upaya menciptakan prajurit yang profesional, unggul, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Informasi tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Pertahanan mengenai dampak latihan pemrograman bagi prajurit TNI AD.
Sumber: Mutaqin, R., Mutaqin, G., Sahary, F. T., & Dharmopadni, D. S. (2023). The Impact of Indonesian Army Information and Data Processing Service Department Programming Training for Indonesian Army. Jurnal Pertahanan: Media Informasi ttg Kajian & Strategi Pertahanan yang Mengedepankan Identity, Nasionalism & Integrity, 9(2), 420-426.

.jpeg)
