Pada suatu hari keluarga Pak Ari bersiap di meja makan. Menu sarapan pagi itu ada nasi tiwul, lele goreng garing, dan sambal rampai. Sepiring daun kenikir muda dan bayam rebus turut memberi asupan serat untuk keluarga kecil tersebut. Baik, saya tidak sedang memancing selera makan bapak ibu kali ini. Sekedar memberi gambaran sederhana dari keseharian warga yang kerap kita jumpai. Pada wilayah pedesaan hal demikian sangat lazim kita temui. Lahan terbuka yang masih tersedia juga gaya hidup yang masih dekat dengan ketersediaan alam. Nasi tiwul berbahan dasar singkong, banyak tumbuh di kebun Pak Ari. Melalui proses tertentu singkong diolah menjadi tiwul dan dapat dikonsumsi sebagai sumber karbohidrat pengganti beras. Ikan lele diperoleh dari kolam yang biasanya dimiliki setiap rumah. Tomat rampai, cabai, dan beragam sayuran tumbuh subur di sisi-sisi halaman rumah Pak Ari. Secara garis besar bahan utama sarapan keluarga Pak Ari semua didapatkan tanpa perlu keluar dari pagar rumah.
Sementara itu urban farming belakang ini juga sudah menjadi style di daerah perkotaan. Lahan sempit bisa dimaksimalkan untuk menanam aneka sayuran berusia pendek, bahkan kolam ikan sederhana. Mengolah bahan pangan dari kebun sendiri berdampak signifikan untuk ketahanan domestik keluarga Indonesia. Coba saja hitung berapa rupiah yang berhasil dihemat dari "sarapan dari kebun" tersebut . Bila kita lihat dalam skala lebih luas, kemampuan masyarakat suatu negara dalam memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri, baik kuantitas dan kualitasnya secara merata dan terjangkau inilah yang disebut sebagai ketahanan pangan.
Di Indonesia, masyarakatnya secara kultural turun temurun memiliki kemampuan penganekaragaman sumber pangan. Daerah tertentu yang tidak atau kurang cocok ditanami padi, maka masyarakatnya mengkonsumsi jagung, singkong, sorgum, umbi rambat, sagu, dan lain-lain sebagai sumber karbohidrat. Sebenarnya diversifikasi bahan pangan yang dikonsumsi atau diproduksi itu dibutuhkan bukan hanya sebagai jawaban atas keterbatasan alam, tetapi juga agar masyarakat tidak bergantung secara berlebihan pada satu komoditi pokok saja. Ketergantungan pasokan makanan pada satu jenis karbohidrat rentan terhadap perubahan iklim, gangguan pasokan, atau fluktuasi harga. Selain itu potensi pemenuhan gizi yang seimbang akan lebih mudah dicapai melalui penganekaragaman bahan pangan. Tidak bisa mengkonsumsi hanya satu bahan pangan saja untuk memenuhi kebutuhan tubuh, kecuali ia bekerja sama dengan komponen lain.
Lebih jauh, diversifikasi bahan pangan membuka peluang pasar baru dan memberdayakan UMKM di daerah sebagai penyedia bahan pangan lokal, karena Indonesia kaya akan beragam sumber karbohidrat alternatif, protein, sayur dan buah lokal yang bernilai gizi tinggi. Seperti keluarga Pak Ari di atas, dari menu rumahan yang otentik seperti tiwul dapat muncul gagasan untuk memproduksi tiwul lebih banyak yang dapat dipasarkan. Atau malah membuka rumah makan dengan menu khas tersebut. Secara ekonomis, dari pemanfaatan sumber pangan yang banyak tersedia, keluarga Pak Ari akan mendapat penghasilan tambahan. Sebagai informasi, tiwul memiliki kalori yang lebih rendah dibanding nasi putih, memiliki serat lebih tinggi untuk kesehatan digest system, dan kandungan karbohidrat kompleksnya membantu mencegah lonjakan gula darah, sehingga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes.
Rasanya strategi penganekaragaman pangan seperti di atas bila diterapkan dalam proyek ketahanan pangan kita akan dapat saling melengkapi untuk memastikan ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan gizi pangan secara merata dan berkelanjutan di seluruh Indonesia. Berangkat dari hal sederhana, mulai dari bagian terkecil masyarakat yaitu keluarga. Nah, siapa yang sudah pernah merasakan nasi tiwul?
Penulis: Sri Wahyu Utami, S.Sos. (Pgs. Ketua DPW Lampung / Ketua DPC Lampung Utara)


