Di sebuah gudang tua yang sudah puluhan tahun kosong, hiduplah Jelangkung yang dulu sangat terkenal. Dahulu, setiap malam Jumat namanya selalu disebut-sebut. Kini suasana berubah. Orang-orang tidak lagi membawa boneka dan membaca mantra. Mereka justru sibuk menatap layar ponsel sambil bertanya kepada ChatGPT. "Kenapa sekarang sepi sekali?" gumam Jelangkung sambil menghela napas.
Suatu malam, Jelangkung memanggil teman-temannya. "Kita harus mencari tahu siapa yang merebut perhatian manusia!" katanya. Genderuwo menjawab, "Katanya namanya ChatGPT." Pocong ikut menyela, "Aku pernah lihat. Orang-orang bertanya apa saja, langsung dijawab." Jelangkung mengernyit. "Baiklah, kalau begitu aku akan menantangnya!"
Keesokan malam, Jelangkung muncul di hadapan seorang mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Dengan suara berat ia berkata, "Manusia... panggil aku jika ingin tahu rahasia alam gaib!" Mahasiswa itu hanya melirik sebentar, lalu kembali mengetik di ponselnya. "Maaf, aku lagi tanya ChatGPT tentang metodologi penelitian."
Jelangkung merasa tersinggung. "Hei! Aku bisa membuatmu merinding!" Mahasiswa itu tertawa kecil. "Tapi ChatGPT bisa bantu bikin kerangka skripsi, memperbaiki kalimat, bahkan menjelaskan teori." Jelangkung terdiam beberapa saat. "Lho... kok aku jadi kalah?"
Tak mau menyerah, Jelangkung mendatangi seorang penulis novel. "Aku punya banyak kisah misteri!" katanya bangga. Penulis itu menjawab santai, "Bagus, tapi aku juga bisa berdiskusi dengan ChatGPT untuk mengembangkan alur cerita." Jelangkung menggaruk kepala. "Berarti sekarang bukan cuma hantu yang pandai bercerita?"
Malam berikutnya, Jelangkung bertemu anak-anak yang sedang berkumpul. Ia berharap mereka akan ketakutan. Namun yang terdengar justru percakapan, "Coba tanya ChatGPT, kenapa langit berwarna biru." Yang lain berkata, "Sekalian minta dibuatkan puisi." Jelangkung hanya bisa duduk di bawah pohon sambil menghela napas panjang.
Akhirnya Jelangkung berhasil "bertemu" ChatGPT melalui sebuah layar. "Jadi, kamukah yang membuatku kehilangan pekerjaan?" tanyanya. ChatGPT menjawab tenang, "Bukan. Aku hanya membantu orang mencari informasi dan mengembangkan ide. Aku tidak datang untuk menakut-nakuti siapa pun." Jelangkung mengangguk pelan.
"Kalau begitu, apakah aku sudah tidak berguna?" tanya Jelangkung lirih. ChatGPT menjawab, "Tidak juga. Kamu tetap menjadi bagian dari cerita rakyat, budaya, dan imajinasi. Tanpamu, banyak kisah tradisional akan kehilangan warna." Mendengar itu, wajah Jelangkung mulai kembali cerah.
Jelangkung tersenyum lalu berkata, "Berarti aku tidak perlu bersaing denganmu?" ChatGPT menjawab, "Tentu tidak. Kamu menjaga warisan cerita, sementara aku membantu orang belajar dan berkarya. Kita memiliki peran yang berbeda." Jelangkung pun tertawa lepas. "Ternyata aku salah paham selama ini."
Sejak malam itu, Jelangkung tidak lagi iri kepada ChatGPT. Ia memilih menjadi tokoh dalam dongeng, novel, dan cerita horor yang menghibur pembaca. Sementara itu, ChatGPT terus membantu manusia belajar, menulis, dan berkreasi. Persaingan pun berubah menjadi persahabatan, karena pada akhirnya setiap zaman memiliki caranya sendiri untuk menginspirasi manusia.